Metta Murdaya Kembangkan Skincare Juara Berbasis Filosofi Jamu

Metta Murdaya Kembangkan Skincare Juara Berbasis Filosofi Jamu
Foto: Ilustrasi Metta Murdaya Kembangkan Skincare Juara Berbasis Filosofi Jamu.

Pendiri lini perawatan kulit JUARA, Metta Murdaya, membagikan kisah transformasi personal yang melatarbelakangi lahirnya produk kecantikan berbasis jamu. Pengalaman ini bermula dari titik balik dalam hidupnya saat menghadapi tekanan karier yang luar biasa.

Dikutip dari Lifestyle, Metta sempat terjebak dalam ritme kerja yang sangat intens saat membangun karier di Amerika Serikat pada usia muda. Ambisi besar dan tekanan tinggi membuatnya kehilangan waktu istirahat yang cukup setiap harinya.

Kondisi tersebut berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mentalnya hingga memicu kelelahan ekstrem. Fenomena burnout yang dialaminya menjadi sinyal kuat bahwa gaya hidup tersebut mulai merusak penampilan sekaligus kesejahteraannya.

"Waktu saya berada di usia pertengahan dua puluhan, saya merasa sedang mengejar karier, sangat stres, dan bekerja tanpa henti. Lalu suatu hari saya berpikir, untuk apa sebenarnya saya bekerja sekeras ini?" kata Metta saat ditemui di Kamar Solek, House of Tugu, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Refleksi mendalam tersebut mendorong Metta untuk mencari pendekatan perawatan diri yang lebih holistik. Ia mulai mempertimbangkan penggabungan metode perawatan dari sisi luar maupun dari dalam tubuh secara seimbang.

Saat menetap di Amerika Serikat, Metta mengaku kesulitan menemukan produk perawatan diri berkualitas yang memiliki konsep holistik. Hal ini membangkitkan memorinya tentang tradisi jamu Nusantara yang selama ini ia kenal.

Awalnya, ia sempat meragukan keampuhan tradisi herbal Indonesia karena kuatnya pengaruh tren kecantikan Barat. Namun, ia menyadari bahwa jawaban atas masalah kesehatannya justru terletak pada warisan budaya lokal yang sering dianggap kuno.

"Dulu kita selalu menganggap bahwa budaya Barat itu yang terbaik. Jadi walaupun saya tahu tentang jamu, saya sempat mengecilkan nilainya dan menganggapnya kuno karena pengaruh Barat yang sangat kuat," ungkap Metta.

Perubahan paradigma tersebut menjadi fondasi berdirinya jenama skincare premium JUARA di New York City pada tahun 2014. Produk ini terinspirasi dari kekayaan botani Indonesia yang digunakan dalam ritual kerajaan kuno.

Selain manfaat fisik, merek ini mengusung pesan pemberdayaan bagi para penggunanya agar merasa percaya diri. Metta menegaskan bahwa nama tersebut merupakan pengingat bagi setiap individu mengenai kekuatan yang mereka miliki.

"Namanya adalah JUARA, dan ini bukan semata-mata karena produknya yang juara, melainkan sebagai pengingat bagi diri kita sendiri bahwa kitalah yang juara," tutur Metta.

Prinsip Preventif dalam Perawatan Kecantikan

Filosofi jamu yang mengedepankan tindakan pencegahan atau preventif menjadi pilar utama dalam pengembangan produk JUARA. Metta dan timnya mengolah bahan alami seperti kunyit, asam jawa, beras, dan kemiri menjadi formula modern.

Seluruh produk yang dihasilkan bersifat 100 persen vegetarian serta dipastikan bebas dari kandungan sulfat dan paraben. Pendekatan ini bertujuan mengedukasi masyarakat bahwa merawat kecantikan sebaiknya dilakukan secara rutin sebelum masalah muncul.

"Kalau kita memikirkan jamu, itu tidak sama seperti obat pereda nyeri. Kita tidak menunggu sampai jatuh sakit baru meminumnya, melainkan meminumnya secara rutin untuk mencegah datangnya penyakit," terang Metta.

Inovasi Teknis Pengolahan Bahan Alami

Proses mewujudkan jenama ini melibatkan rintangan teknis, terutama dalam mengubah bahan mentah menjadi standar kosmetik pabrikan. Metta bekerja sama dengan ahli kimia kosmetik untuk memastikan produk memiliki umur simpan yang aman dan terukur.

"Kita tidak bisa asal memetik daun atau rempah lalu langsung mengaplikasikannya ke kulit. Kalau membuat racikan segar di spa mungkin bisa, tetapi untuk perawatan kulit yang diproduksi di pabrik, harus ada umur simpannya," kata Metta.

Inovasi dilakukan pada proses ekstraksi, seperti pada bahan kunyit yang hanya diambil bagian antioksidannya saja. Teknik ini memastikan produk efektif mencerahkan kulit tanpa meninggalkan noda kuning yang mengganggu estetika bagi pengguna.

Ritual Skincare sebagai Pemulihan Mental

Metta kini memandang rutinitas perawatan kulit sebagai sarana untuk mengatasi kelelahan mental atau burnout. Baginya, esensi jamu telah bertransformasi menjadi gaya hidup yang menjaga keseimbangan diri secara menyeluruh.

"Filosofinya adalah hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari untuk menjaga diri kita tetap seimbang dan bahagia," kata Metta.

Aktivitas harian seperti membersihkan wajah atau memakai pelembap kini dilakukan layaknya sebuah ritual penyembuhan stres. Ia menekankan bahwa kesehatan fisik sangat dipengaruhi oleh kondisi pikiran seseorang.

"Dulu kita berpikir bahwa tubuh mengendalikan pikiran, padahal kenyataannya pikiranlah yang mengendalikan tubuh kita. Jika kondisi mental kita sedang tidak baik, fisik kita juga bisa ikut terganggu," kata Metta.

Menyelaraskan pikiran dan tubuh melalui kearifan lokal dianggap sebagai cara efektif untuk memulihkan energi yang terkuras. Momen di depan cermin menjadi ruang personal untuk memulai dan menutup hari dengan perspektif yang lebih positif.

"Momen saat kita membuka dan menutup hari itu sangat penting bagi kesehatan dan pandangan mental kita. Waktu merawat kulit sebenarnya adalah momen ritual ajaib yang bisa dimanfaatkan untuk memulai serta mengakhiri hari dengan baik," pungkas Metta.

Artikel terkait

Rekomendasi