Meta mencatat penyusutan sebanyak 20 juta pengguna aktif harian (DAU) pada ekosistem aplikasinya selama periode kuartal I-2026. Penurunan signifikan pada platform Facebook, Instagram, dan WhatsApp ini dilaporkan terjadi akibat gangguan akses internet di Iran serta pembatasan layanan di Rusia.
Berdasarkan laporan keuangan Januari-Maret 2026 yang dilansir dari Tekno, induk perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg ini juga mengalami penurunan pengunjung harian (DAP) sebesar 0,5 persen. Total pengunjung harian Meta saat ini mencapai 3,5 miliar, menyusut dari angka 3,58 miliar pada kuartal IV-2025.
Kinerja keuangan yang melandai ini berdampak langsung pada nilai pasar perusahaan di bursa saham. Saham Meta tercatat anjlok hingga 9 persen dalam penutupan perdagangan pada Jumat, 1 Mei 2026 waktu Amerika Serikat.
Kepala Keuangan Meta, Susan Li, memberikan penjelasan mengenai faktor eksternal yang memicu berkurangnya jumlah basis pengguna mereka. Menurutnya, pemadaman infrastruktur komunikasi di Timur Tengah menjadi penyebab utama.
Li mengungkapkan bahwa pemblokiran internet hampir total di Iran terjadi pasca-serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Selain kebijakan politik, kerusakan pada jaringan kabel serat optik akibat konflik tersebut turut memperparah hilangnya akses bagi jutaan orang di wilayah itu.
Faktor lain yang memperburuk statistik pengguna adalah kebijakan ketat pemerintah Rusia terhadap layanan pesan instan. Sejak pertengahan Februari 2026, Rusia mulai membatasi akses WhatsApp demi mempromosikan aplikasi domestik bernama Max bagi warganya.
Aplikasi Max tersebut diwajibkan bagi seluruh pegawai pemerintah dan pelajar, serta menjadi aplikasi bawaan pada perangkat baru. Pihak WhatsApp menanggapi upaya blokir total tersebut melalui pernyataan resmi di media sosial X.
"Hari ini pemerintah Rusia mencoba memblokir WhatsApp sepenuhnya sebagai upaya mendorong warganya beralih ke aplikasi pengawasan buatan dalam negeri," tulis WhatsApp dalam sebuah posting di X (Twitter) pada Februari lalu.
Langkah Rusia ini dinilai berdampak pada lebih dari 100 juta pengguna yang berada di negara tersebut. Meski akses dibatasi, Meta menyatakan akan terus mencari cara agar pengguna tetap bisa terhubung ke jaringan mereka.
Dari sisi otoritas Rusia, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa normalisasi akses bergantung pada kepatuhan perusahaan terhadap regulasi setempat. Peskov menyebut tidak akan ada peluang pemulihan jika kesepakatan hukum antara Meta dan pemerintah Rusia tidak tercapai.
Walaupun jumlah pengguna menyusut, Meta melaporkan kenaikan pendapatan tahunan sebesar 33 persen menjadi 56,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 977 triliun. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar 22,8 miliar dollar AS yang setara dengan Rp 395 triliun pada periode yang sama.