Mentan Amran Sulaiman Soroti Motif Mafia Pangan Ganggu Swasembada

Mentan Amran Sulaiman Soroti Motif Mafia Pangan Ganggu Swasembada
Foto: Ilustrasi Mentan Amran Sulaiman Soroti Motif Mafia Pangan Ganggu Swasembada.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan adanya pihak tertentu yang berupaya mengganggu stabilitas swasembada pangan nasional menyusul pengungkapan kasus penyelundupan komoditas impor ilegal di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Sabtu, 18 April 2026.

Aksi ilegal tersebut dinilai sebagai upaya sistematis untuk merusak struktur harga di tingkat petani lokal. Amran menyebut praktik ini sengaja dilakukan untuk melemahkan produksi dalam negeri yang saat ini sedang diperkuat pemerintah.

"Ada pihak-pihak yang tidak akan pernah bahagia kalau Indonesia swasembada pangan. Karena itu mereka terus mencari celah untuk merusak pasar dan melemahkan produksi dalam negeri," kata Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pada komoditas bawang merah dan cabai menjadi alasan mengapa masuknya produk ilegal sangat merugikan. Tekanan harga akibat barang selundupan berpotensi mematikan insentif ekonomi bagi para petani.

"Kita sudah swasembada bawang merah. Tidak ada alasan barang ilegal masuk selain merusak harga petani," ujar Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Berdasarkan laporan Satgas Pangan Bareskrim Mabes Polri, petugas berhasil menyita total 23,1 ton komoditas pangan ilegal di Pontianak. Barang bukti tersebut terdiri dari bawang putih asal China seberat 9,1 ton dan bawang bombai asal Belanda sebanyak 7,9 ton.

Selain itu, terdapat pula bawang merah asal Thailand sebanyak 2,1 ton, bawang bombai India 1,6 ton, serta cabai kering asal China seberat 2,2 ton. Mentan menekankan bahwa temuan di Pontianak ini merupakan bagian dari jaringan yang lebih luas.

"Ini pola yang sama, berulang, dan terorganisir. Berulang kali kami sebut inilah mafia pangan. Skalanya sudah ratusan sampai ribuan ton. Artinya ada kekuatan besar di belakangnya," tegas Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Catatan kementerian menunjukkan tren serupa terjadi di berbagai pelabuhan utama. Dalam beberapa bulan terakhir, aparat telah menyita 133,5 ton bawang bombai di Semarang, 72 ton di Surabaya, serta total 1.250 ton beras ilegal di Sabang dan Tanjung Balai Karimun.

Kondisi geografis Indonesia yang memiliki garis pantai sangat panjang diakui menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan. Jalur-jalur tidak resmi atau 'jalan tikus' kerap menjadi pintu masuk utama bagi para penyelundup lintas negara.

"Dengan garis pantai yang panjang, celah itu dimanfaatkan oleh oknum untuk memasukkan barang ilegal. Ini yang harus kita tutup bersama," tegas Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

Kementerian Pertanian kini tengah meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum untuk memperketat pengawasan di titik-titik rawan. Langkah ini diambil guna memastikan rantai distribusi pangan nasional tetap terlindungi dari intervensi komoditas ilegal.

Artikel terkait

Rekomendasi