Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan hati dari berbagai penyakit yang muncul tanpa disadari. Salah satu sifat yang dinilai merusak empati adalah syamatah, yaitu perasaan senang ketika melihat orang lain tertimpa musibah atau kegagalan.
Sikap ini sering ditemukan di media sosial melalui komentar sindiran atau rasa puas atas kesulitan pihak lain. Dikutip dari Cahaya, syamatah merupakan tanda lemahnya kasih sayang terhadap sesama manusia yang seharusnya dijunjung tinggi dalam agama.
Secara bahasa, syamatah berarti kegembiraan atas kemalangan yang menimpa orang lain. Perasaan ini bisa dipicu oleh berbagai faktor seperti rasa benci, persaingan, atau keinginan melihat orang lain jatuh dari kesuksesannya.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Mizanul ÔÇÿAmal menjelaskan bahwa syamatah adalah tanda rusaknya empati seseorang. Menurutnya, hati yang mulai menikmati penderitaan orang lain sedang kehilangan nilai penting dalam Islam, yaitu solidaritas dan kasih sayang.
Ulama lain, Muhammad al-Tahir Ibnu Asyur dalam kitab At-Tahrir wa At-Tanwir, menerangkan bahwa sifat ini lahir dari kedengkian yang dipendam. Rasa tidak rela melihat kebahagiaan orang lain memicu kepuasan saat orang tersebut kehilangan nikmatnya.
Peringatan Rasulullah SAW Mengenai Syamatah
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras agar umat Islam menghindari perilaku ini. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, beliau mengingatkan tentang fluktuasi nasib manusia yang sangat mudah berubah atas izin Allah SWT.
"Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah saudaramu, karena bisa jadi Allah menyembuhkannya lalu mengujimu."
Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa khusus untuk berlindung dari perlakuan buruk orang lain saat kita tertimpa musibah. Hal ini tercermin dalam hadis riwayat Imam Bukhari mengenai perlindungan dari syamatah musuh.
"Berlindunglah kepada Allah dari beratnya cobaan, keterpurukan celaka, buruknya takdir, dan syamatah musuh."
Hubungan dengan Hasad dan Psikologi Modern
Akar utama dari syamatah adalah hasad atau iri hati yang tertanam kuat. Allah SWT telah memperingatkan bahaya kedengkian ini melalui firman-Nya dalam Surah Al-Falaq ayat 5 sebagai bentuk kejahatan yang harus diwaspadai.
"Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki."
Fenomena ini ternyata juga mendapat perhatian dalam dunia psikologi modern dengan istilah schadenfreude. Istilah dari bahasa Jerman ini bermakna kesenangan yang muncul atas kemalangan orang lain, sering kali terjadi saat seseorang merasa terancam atau iri.
Penelitian Van Dijk dalam jurnal Cognition and Emotion menyebutkan bahwa schadenfreude dapat menghilangkan empati. Hal ini sejalan dengan buku Mengenal Schadenfreude dan Gl├╝cksschmerz karya tim peneliti UIN Jakarta yang menyoroti dampak buruknya secara sosial.
Bahaya dan Cara Membersihkan Hati
Syamatah sangat berbahaya karena bisa menghancurkan ketenangan batin dan merusak hubungan sosial. Pelakunya cenderung hidup dalam kecemasan karena kebahagiaannya bergantung pada jatuhnya orang lain, bukan pada rasa syukur pribadinya.
Islam menawarkan solusi untuk membersihkan hati dari penyakit ini melalui latihan spiritual. Langkah pertama adalah memperbanyak rasa syukur atas segala nikmat yang telah diterima agar tidak sibuk membandingkan hidup dengan orang lain.
Langkah selanjutnya adalah membiasakan diri mendoakan kebaikan bagi sesama, termasuk mereka yang tidak disukai. Menghindari kebiasaan membandingkan kehidupan di media sosial juga menjadi kunci penting untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa fokus pada perbaikan diri sendiri akan membawa ketenangan lebih besar. Kemuliaan seorang manusia bukan terletak pada jatuhnya pihak lain, melainkan pada kebersihan hatinya sendiri.