Keresahan terhadap kondisi sosial-politik Indonesia belakangan ini mendorong penulis Andre Syahreza untuk merilis karya terbarunya. Melalui novel fiksi berjudul Semesta Nekra, mantan jurnalis ini menuangkan imajinasi serta memorinya saat menjadi saksi hidup era reformasi 1998.
Buku ketujuh dari Andre ini resmi meluncur pada Mei 2026, bertepatan dengan 28 tahun berakhirnya kekuasaan Orde Baru. Karya ini menjadi wadah baginya untuk merefleksikan kembali perjalanan sejarah bangsa yang dibalut dalam prosa imajinatif.
Struktur Cerita dan Sudut Pandang Unik
Semesta Nekra hadir dengan format yang tidak biasa, yakni terdiri dari 30 cerita pendek yang dikelompokkan ke dalam tiga babak utama. Setiap cerita dinarasikan oleh karakter yang berbeda-beda, namun semuanya memiliki keterkaitan dengan tokoh sentral bernama Nekra Selabar.
Pembaca akan diajak melihat sosok Nekra dari berbagai kacamata profesi, mulai dari pedagang asongan hingga prajurit tentara. Keanekaragaman perspektif ini memberikan gambaran utuh mengenai perjalanan hidup seorang aktivis yang bertransformasi menjadi politisi di masa depan.
Daftar karakter yang memberikan kesaksian dalam novel ini antara lain:
- Pedagang asongan yang menyaksikan dinamika jalanan.
- Prajurit tentara dan tukang gali kubur yang bersinggungan dengan sisi gelap kekuasaan.
- Teknisi mikrofon yang mendengarkan percakapan di balik layar politik.
- Aktivis dan rekan seperjuangan Nekra selama masa penentangan Orde Baru.
Melalui potongan-potongan kesaksian warga dari tahun 1994 hingga proyeksi masa depan di 2033, pembaca seolah sedang menyimak wawancara mendalam. Gaya bercerita ini membuat narasi politik yang berat terasa lebih personal dan mudah dinikmati.
Bukan Sekadar Nostalgia Tahun 1998
Meskipun sering dikaitkan dengan peristiwa 1998, Andre menegaskan bahwa novel ini memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Baginya, label "buku 1998" bisa memicu kesalahpahaman karena ceritanya tidak hanya terpaku pada satu momen sejarah tersebut.
Ia lebih suka menyebut karya ini sebagai pengusung semangat reformasi yang kini terasa kembali aktual. Situasi saat ini, menurut Andre, mulai menunjukkan kemiripan dengan gejala-gejala yang terjadi menjelang runtuhnya Orde Baru puluhan tahun silam.
Beberapa poin penting mengenai pesan yang ingin disampaikan penulis:
- Kegelisahan terhadap bangkitnya kembali praktik oligarki di pemerintahan.
- Dampak kenaikan harga kebutuhan pokok yang membebani masyarakat luas.
- Ajakan kepada pembaca untuk mengevaluasi keberhasilan agenda reformasi.
- Pentingnya keterlibatan publik dalam diskursus perubahan sosial dan politik.
Andre memilih tahun-tahun spesifik yang berkaitan erat dengan momentum demokrasi atau peristiwa sosial besar di tanah air. Dengan rentang waktu hampir empat dekade, buku ini membedah bagaimana sejarah cenderung berulang dalam pola yang serupa.
Eksperimen Sastra dan Jurnalisme
Meski sarat dengan muatan sosiopolitik, Andre menolak jika karyanya ini dianggap sebagai buku sejarah atau alat politik. Baginya, Semesta Nekra adalah sebuah eksperimen penulisan yang menggabungkan latar belakangnya sebagai jurnalis dan sastrawan.
Ia lebih menitikberatkan pada teknik penyampaian cerita yang tidak konvensional agar memberikan pengalaman membaca yang berbeda. Fokus utama Andre adalah bagaimana sebuah narasi dibangun melalui struktur yang unik, bukan sekadar pesan politik semata.
Berikut adalah profil singkat perjalanan karier Andre Syahreza:
| Aspek Karier | Keterangan Penulis |
|---|---|
| Latar Belakang Pendidikan | Lulusan Fakultas Sastra Universitas Udayana. |
| Pengalaman Jurnalistik | Pernah bekerja untuk Bali Post, TEMPO, dan majalah djakarta!. |
| Prestasi Internasional | Peneliti tamu di The Royal Netherlands Institute (KITLV) Belanda. |
| Fokus Penelitian | Karya sastra Indonesia bertema Politik Warisan. |
Rekam jejak panjang di dunia media massa sangat memengaruhi ketajaman Andre dalam merangkai fakta dan fiksi menjadi satu kesatuan. Melalui buku ini, ia berharap pembaca bisa ikut menyelami realitas yang ia bangun dari perpaduan antara riset dan imajinasi.