PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp250 per saham melalui hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Keputusan ini diambil di tengah fluktuasi harga saham perseroan yang sempat terkoreksi ke level Rp1.920,00 pada perdagangan Kamis (16/4).
Besaran nilai pembagian laba tersebut selaras dengan usul manajemen sebelumnya untuk tahun buku 2025. Dilansir dari Stocksetup, perseroan tetap berkomitmen memberikan imbal hasil kepada pemegang saham meskipun daya beli masyarakat sedang mengalami tantangan yang cukup berat.
Kinerja keuangan emiten ritel ini mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 9,6 persen menjadi Rp5,78 triliun dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang mencapai Rp6,39 triliun. Penurunan ini turut berdampak pada laba kotor perusahaan yang merosot menjadi Rp3,81 triliun.
Berdasarkan data operasional, laba bersih LPPF pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp725,4 miliar, atau turun 12,4 persen dari angka Rp827,7 miliar di tahun 2024. Penurunan juga terjadi pada EBITDA yang tercatat sebesar Rp1,85 triliun dari sebelumnya Rp2,04 triliun.
Manajemen yang dipimpin oleh Bunjamin Jonatan Mailool selaku Presiden Direktur tetap fokus pada pengembangan lini usaha department store dan penjualan konsinyasi. Kontribusi pendapatan terbesar perusahaan saat ini masih didominasi oleh operasional di wilayah Pulau Jawa.
Berikut adalah struktur kepemimpinan PT Matahari Department Store Tbk berdasarkan data Bursa Efek Indonesia:
| Nama | Jabatan | Status/Afiliasi |
|---|---|---|
| Bunjamin Jonatan Mailool | Presiden Direktur | Terafiliasi |
| Monish Manohar Masukhani | Wakil Presiden Direktur | Terafiliasi |
| Herni Dian Anggreani | Direktur | Terafiliasi |
| Andy Adhiwana | Presiden Komisaris | Non-Independen |
| Adrian Suherman | Komisaris | Non-Independen |
| Bianca Cheo Hui Hsin | Komisaris | Independen |
| Hasan Soedjono | Komisaris | Independen |
Selain fokus pada toko fisik, LPPF terus mengembangkan strategi omnichannel dan penjualan digital guna mendukung jangkauan pasar. Langkah ini diambil sebagai strategi adaptasi terhadap perubahan perilaku belanja konsumen di sektor produk fesyen dan gaya hidup.