Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyatakan optimisme terhadap prospek saham BBRI dalam konferensi pers daring pada Kamis (30/4/2026). Penurunan harga saham yang terjadi secara year to date (ytd) dinilai lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal daripada fundamental perusahaan.
Kondisi keuangan perseroan dilaporkan tetap kokoh sepanjang kuartal pertama tahun ini, seperti dilansir dari Investortrust. Beberapa indikator utama menunjukkan performa solid, mulai dari aset yang terjaga, likuiditas stabil, perbaikan biaya dana (cost of fund), permodalan yang kuat, hingga pertumbuhan laba bersih yang sehat.
Direktur Finance & Strategy Bank BRI Achmad Royadi menjelaskan bahwa pergerakan harga saham di pasar modal turut dipengaruhi oleh sentimen global dan persepsi dari para investor terhadap pasar modal Indonesia.
"Harga saham kan banyak faktor ya. Jadi tidak hanya dari fundamental, kita juga ada faktor sentimen global, ada dari persepsi investor sendiri terhadap Indonesia terhadap pasar modal. Namun secara fundamental, khususnya di kuartal I 2026 kali ini, kinerja keuangan BBRI sangat kuat," ujarnya Achmad Royadi, Direktur Finance & Strategy Bank BRI.
Faktor fundamental yang kuat tersebut membuat manajemen menyimpulkan bahwa tekanan yang terjadi pada saham berkode BBRI saat ini didominasi oleh pengaruh dari luar lingkungan internal perusahaan.
"Kalau melihat dari fundamentalnya bagus, kami mencermati bahwa ini lebih ke faktor eksternal ya dibandingkan dengan faktor fundamental itu sendiri," kata Achmad Royadi, Direktur Finance & Strategy Bank BRI.
Selain performa keuangan, pihak manajemen juga menunjukkan komitmen tinggi kepada para pemegang saham melalui kebijakan pembagian dividen yang agresif, dengan rasio mencapai 92 persen dari total laba bersih tahun buku 2025.
"Ini juga bagian dari upaya kami untuk pemegang saham, kita kembalikan kinerja yang telah kita hasilkan," ucap Achmad Royadi, Direktur Finance & Strategy Bank BRI.
Sementara itu, strategi jangka menengah perseroan akan berfokus pada transformasi digital, penghimpunan dana (funding), penyaluran kredit secara sehat, serta pembentukan ekosistem bisnis yang terintegrasi demi memberikan nilai tambah berkelanjutan.
Direktur BRI Hery Gunardi turut memberikan pandangan mengenai pentingnya strategi berinvestasi jangka panjang di pasar modal, terutama di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang mengalami tekanan.
"Kalau ingin investasi jangka panjang, misalnya 5, 10, 15, bahkan 20 tahun, belilah saham-saham yang bluechip, yang fundamentalnya bagi seperti BBRI," ujar Hery Gunardi, Direktur BRI.
Investor disarankan tidak terlalu mencermati pergerakan harga saham secara harian demi menghindari tekanan psikologis yang tidak perlu, karena fokus utama investasi jangka panjang terletak pada konsistensi kinerja emiten.
"Kita tidak usah lihat harga saham naik turun, itu bikin namanya tekanan darah naik juga, stresnya naik. Karena investasi itu mesti sesuai dengan objektifnya kita," kata Hery Gunardi, Direktur BRI.
Tingkat imbal hasil dari saham BBRI diklaim sangat kompetitif karena berada di kisaran 10 persen hingga 11 persen per tahun, melampaui imbal hasil instrumen investasi konvensional seperti deposito maupun reksa dana pasar uang.
"Kalau market-nya bagis, makroekonominya membaik, baik itu global maupun lokal, saham-saham itu pasti akan ikut naik, indeks akan ikut naik," ucap Hery Gunardi, Direktur BRI.
Manajemen BRI meyakini pemulihan kondisi makroekonomi domestik dan global nantinya akan otomatis mendorong kenaikan indeks harga saham gabungan serta mengerek kembali harga saham-saham unggulan.
"Jadi itu tipsnya. Silahkan kalau mau berinvestasi, jangan lupa pilih yang blue chip, jangan pilih saham yang tidak blue chip," sambung Hery Gunardi, Direktur BRI.