Malaysia Jajaki Pembelian Minyak Rusia Guna Perkuat Ketahanan Energi

Malaysia Jajaki Pembelian Minyak Rusia Guna Perkuat Ketahanan Energi
Foto: Ilustrasi Malaysia Jajaki Pembelian Minyak Rusia Guna Perkuat Ketahanan Energi.

Pemerintah Malaysia mulai menjajaki opsi pembelian minyak dari Rusia melalui perusahaan energi nasional, Petronas, guna menjaga ketahanan energi nasional pada Senin (20/4/2026). Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas tekanan pasokan energi global akibat konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok minyak dalam beberapa pekan terakhir.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menjelaskan bahwa negosiasi dengan Rusia dimungkinkan karena hubungan bilateral kedua negara tetap terjaga dengan baik. Upaya ini menempatkan Malaysia bersama negara Asia Tenggara lainnya dalam mencari alternatif pasokan minyak yang lebih kompetitif di tengah kenaikan harga dunia, sebagaimana dilansir dari Money.

"Beruntung, hubungan kita dengan Rusia tetap baik. Oleh karena itu, tim Petronas dapat bernegosiasi dengan mereka," ujar Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia.

Anwar menekankan bahwa keterlibatan Petronas sangat krusial untuk memastikan ketersediaan bahan bakar di jaringan ritel nasional tetap aman hingga akhir Juni 2026. Selain itu, pemerintah melakukan langkah diplomasi untuk menjamin kelancaran distribusi melalui jalur laut yang strategis.

"Syukurlah, kapal tanker minyak Petronas tiba dengan selamat di Kompleks Bersepadu Pengerang (pada Jumat). Pengiriman ke Pengerang sangat penting karena pemurnian hanya dapat dilakukan di sana," ujar Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia.

Krisis energi saat ini diperburuk oleh ketegangan di Timur Tengah yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui seperlima pengiriman minyak dunia. Pemimpin tertinggi Iran memberikan peringatan keras terkait stabilitas jalur tersebut sebagai respons terhadap blokade ekonomi pihak asing.

"Angkatan laut Iran siap memberikan kekalahan pahit baru kepada musuhnya," kata Ayatollah Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran.

Di tingkat regional, Indonesia juga memperkuat kerja sama energi dengan Rusia setelah pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada 13 April 2026. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah poin kesepakatan terkait sektor minyak, gas, dan hilirisasi.

"Beberapa poin disepakati, termasuk kerja sama jangka panjang di sektor energi dan sumber daya mineral, seperti minyak dan gas, ketahanan energi, serta hilirisasi," kata Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet.

Filipina dan Vietnam turut menunjukkan tren serupa dengan mendekati Rusia untuk mengamankan kebutuhan domestik mereka. Filipina bahkan telah menetapkan status darurat energi nasional dan meminta izin khusus kepada Amerika Serikat untuk membeli produk petroleum dari Rusia sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi