Lonjakan volume kendaraan di Jalan Raya Sawangan hingga Jalan Raya Muchtar, Kota Depok, pada Selasa (13/1/2026), memicu keluhan warga akibat ketimpangan antara kapasitas jalan dan pertumbuhan permukiman yang pesat. Kondisi ini diperparah oleh limpahan arus dari pintu Tol Depok-Antasari yang kini menjadi simpul utama mobilitas harian masyarakat menuju wilayah penyangga.
Pertumbuhan kawasan hunian yang tidak dibarengi dengan perluasan infrastruktur jalan menjadi penyebab utama kemacetan di koridor tersebut. Berdasarkan laporan Megapolitan, pengamat tata kota M. Aziz Muslim menyoroti bahwa peningkatan volume kendaraan terjadi secara alami karena banyaknya kantong perumahan baru di sepanjang jalur distribusi perkebunan masa lalu ini.
"Volume kendaraannya cukup banyak, apalagi di sana ada banyak kantong perumahan dari berbagai kelas. Kawasan Sawangan memang berkembang pesat sebagai wilayah hunian," ujar M. Aziz Muslim, Pengamat Tata Kota.
Pengoperasian akses tol di tengah permukiman padat dinilai menjadi faktor krusial yang menambah beban jalan raya. Aziz menambahkan bahwa jalan yang ada saat ini dipaksa menampung arus kendaraan dari jaringan tol yang kapasitasnya melampaui rancangan awal jalan arteri tersebut.
"Setelah exit Tol Sawangan berfungsi, volume kendaraan semakin tinggi," kata M. Aziz Muslim, Pengamat Tata Kota.
Kondisi kemacetan yang masif ini melahirkan istilah populer di masyarakat, yakni Sawangan Kubro untuk rute menuju Bojongsari yang lebih padat dan Sawangan Sugro untuk arah Mampang. Aziz menegaskan bahwa realitas di lapangan menunjukkan ketidakmampuan infrastruktur dalam mengimbangi kecepatan perkembangan wilayah di Depok.
"Kapasitas Jalan Raya Sawangan tidak mampu menampung kendaraan yang lewat," ujar M. Aziz Muslim, Pengamat Tata Kota.
Warga setempat mengungkapkan rasa lelah terhadap situasi lalu lintas yang seringkali tidak mengenal waktu sibuk. Fahri, seorang warga Bojongsari, menceritakan pengalamannya terjebak kepadatan kendaraan hingga tengah malam yang dianggapnya dapat membahayakan dalam situasi darurat.
"(Bahkan tengah malam) juga padat, setiap waktu tanpa mengenal hari. Sebenarnya sangat berbahaya ya ketika ada situasi atau kebutuhan darurat," ucap Fahri, Warga Bojongsari.
Lama perjalanan di jalur ini meningkat drastis hingga hitungan jam meski jarak yang ditempuh tergolong pendek. Fahri mengingat kembali momen saat dirinya harus menghabiskan waktu dua jam hanya untuk mencapai pintu tol dari simpang terdekat.
"Waktu itu dari Simpang Tugu Bantu ke pintu Tol Desari pernah memakan waktu dua jam," ungkap Fahri, Warga Bojongsari.
Penduduk lain di kawasan Parung Bingung, Lutfiatul, turut mengamini bahwa kelancaran lalu lintas di Sawangan merupakan hal yang langka. Menurut pengamatannya, kepadatan volume kendaraan hanya berkurang pada jam-jam tertentu saat mayoritas warga masih beristirahat.
"Buat jawab kapan Sawangan bisa nggak macet kayaknya bingung deh, soalnya selalu macet. Mungkin sebentar jalanan agak kosong pas weekend pagi aja," tutur Lutfiatul, Warga Parung Bingung.
Keresahan warga muncul karena kepadatan tetap terjadi meskipun hari sudah larut malam, terutama di area dekat pintu Tol Depok-Antasari. Lutfiatul mengaku lebih merasa heran jika mendapati jalanan dalam kondisi lancar saat melintas di wilayah tempat tinggalnya.
"Kalau saya enggak lihat macet justru heran, kok tumben lancar, pasti kayak gitu sih kalau warga sini," sambung Lutfiatul, Warga Parung Bingung.
Pemerintah Kota Depok saat ini tengah mewacanakan penerapan sistem satu arah di Jalan Raya Muchtar sebagai salah satu opsi solusi. Lutfiatul menyambut baik rencana tersebut namun mengingatkan perlunya antisipasi agar titik kemacetan tidak sekadar berpindah ke ruas jalan lainnya.
"Paling nanti setelah keluar di Jalan Pemuda ya harus dipikirin solusi penguraian macetnya. Kalau ternyata kemacetan juga terjadi di situ kan sama saja," jelas Lutfiatul, Warga Parung Bingung.