Lufthansa Airlines beserta beberapa maskapai di bawah naungannya mengumumkan rencana pengurangan jadwal operasional secara signifikan. Perusahaan penerbangan asal Jerman tersebut bakal menghapus sekitar 20.000 penerbangan jarak pendek yang semula dijadwalkan hingga Oktober mendatang.
Langkah drastis ini terpaksa diambil akibat dampak perang Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran sejumlah negara terhadap potensi kelangkaan avtur atau bahan bakar pesawat di pasar global.
Manajemen Grup Lufthansa menjelaskan bahwa kebijakan pemangkasan ini menyasar rute-rute dengan tingkat keuntungan rendah. Operasi yang dikurangi sebagian besar berpusat di bandara utama mereka, yakni Frankfurt dan Munich di Jerman.
Dikutip dari Kompas, kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat penggunaan bahan bakar pesawat hingga mencapai 40.000 metrik ton. Efisiensi ini menjadi prioritas perusahaan di tengah guncangan ekonomi sektor transportasi udara.
Sebagai upaya menekan pengeluaran, perusahaan telah menutup CityLine yang merupakan salah satu anak usaha regional mereka pada pekan lalu. Strategi penghematan juga melibatkan konsolidasi dengan maskapai mitra di Eropa.
Maskapai yang terlibat dalam langkah konsolidasi ini meliputi Austrian Airlines, Brussels Airlines, SWISS, dan ITA Airways. Kerja sama ini juga mencakup pengoptimalan bandara penghubung di Roma, Wina, Zurich, serta Brussels.
Harga bahan bakar pesawat dilaporkan telah meningkat lebih dari dua kali lipat di sejumlah pasar internasional sejak akhir Februari 2026. Kenaikan tajam ini dipicu oleh dimulainya konflik militer yang melibatkan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Sektor penerbangan menjadi pihak yang paling terdampak karena biaya bahan bakar merupakan komponen pengeluaran operasional terbesar. Lonjakan harga ini secara langsung membebani neraca keuangan maskapai di seluruh dunia.
Bagi para pelancong, situasi ini berdampak pada terbatasnya opsi jadwal penerbangan di berbagai rute. Selain itu, konsumen menghadapi kenaikan tarif tiket dan biaya tambahan yang muncul menjelang musim puncak liburan musim panas.
Banyak maskapai kini menerapkan kebijakan penyesuaian biaya tambahan bahan bakar untuk menutupi selisih harga operasional. Beberapa perusahaan bahkan terpaksa menaikkan tarif bagasi sebagai solusi jangka pendek.
Krisis Energi di Kawasan Eropa
Konflik yang terjadi di sekitar Selat Hormuz menjadi faktor utama gangguan pasokan energi global. Jalur perairan strategis di lepas pantai Iran tersebut merupakan rute bagi seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya.
Kepala Badan Energi Internasional memberikan peringatan bahwa stok avtur di Eropa saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sekitar enam minggu. Tanpa adanya tambahan pasokan, maskapai diprediksi akan terus mengurangi rute mereka.
Pejabat tinggi energi Uni Eropa juga menyoroti krisis ini yang kemungkinan besar bakal memengaruhi harga energi dalam jangka panjang. Efek domino dari perang ini diperkirakan bisa berlangsung selama berbulan-bulan hingga hitungan tahun.
"Ini bukan kenaikan harga jangka pendek dan kecil," kata Komisioner Energi Uni Eropa Dan J├©rgensen, Rabu (22/4/2026), seperti dikutip dari The Associated Press.
J├©rgensen mengungkapkan bahwa peperangan tersebut memberikan beban finansial yang sangat besar bagi kawasan Eropa. Kerugian ekonomi yang ditanggung diperkirakan mencapai 500 juta euro setiap harinya.
"Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, situasinya masih buruk," tambahnya.
Pemerintah negara-negara Uni Eropa dilaporkan sangat mengkhawatirkan risiko kelangkaan stok bahan bakar pesawat di masa depan. Komisi Eropa kini sedang berupaya memberikan bantuan, meski posisi kawasan tersebut saat ini lebih banyak berada dalam mode defensif.
Langkah Stabilisasi dan Kondisi Maskapai Global
Di sisi lain, pihak Lufthansa mengklaim telah mengamankan cadangan bahan bakar untuk kebutuhan beberapa minggu ke depan. Perusahaan terus berupaya menjaga stabilitas pasokan avtur agar operasional selama musim panas tetap terjaga.
Berdasarkan data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium, fenomena pembatalan penerbangan ini ternyata terjadi secara global. Hampir seluruh dari 20 maskapai terbesar di dunia telah membatalkan jadwal penerbangan untuk bulan Mei di semua wilayah utama.
Selain Lufthansa, maskapai raksasa seperti Delta Air Lines, United Airlines, American Airlines, dan Air France-KLM juga melakukan kebijakan serupa. Nama besar lainnya seperti Emirates, Qatar Airways, dan British Airways turut masuk dalam daftar tersebut.
Maskapai asal Swiss, Edelweiss Air, juga telah mengumumkan penghentian layanan ke beberapa destinasi seperti Denver dan Seattle pada musim panas ini. Jadwal penerbangan ke Las Vegas pun turut dikurangi hingga memasuki awal musim gugur.
Sementara itu, Air New Zealand melakukan konsolidasi sekitar 4% dari total jadwal penerbangan mereka untuk periode Mei dan Juni mendatang. Hal ini dilakukan sebagai respons atas kondisi pasar energi yang tidak menentu.
"Seperti maskapai penerbangan di seluruh dunia, kami mengalami harga bahan bakar pesawat yang lebih dari dua kali lipat dari biasanya," kata maskapai tersebut.