Mobilitas masyarakat Indonesia mengalami lonjakan signifikan di hampir seluruh moda transportasi selama periode Idul Fitri pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan jumlah penumpang ini dipicu oleh momentum hari raya yang mendorong pergerakan penduduk antarwilayah secara masif.
Data terbaru yang dilansir dari Money menunjukkan bahwa angkutan kereta api menjadi moda dengan volume penumpang tertinggi. Tercatat sebanyak 48,14 juta orang menggunakan layanan kereta, atau mengalami pertumbuhan sebesar 17,76 persen dibandingkan periode yang sama pada Maret 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan perkembangan data tersebut di Kantor BPS Pusat pada Senin (4/5/2026). Ia mengonfirmasi bahwa tren positif ini terjadi secara merata pada seluruh jenis angkutan penumpang.
"Selama bulan Maret 2026, periode perayaan hari raya Idul Fitri, jumlah keberangkatan penumpang di seluruh moda transportasi meningkat," ujar Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS.
Peningkatan tajam juga terlihat pada moda transportasi penyeberangan yang melesat 72,73 persen dengan total 7,06 juta penumpang. Sektor udara domestik turut tumbuh 32,35 persen mencapai 5,62 juta orang, sementara angkutan laut domestik naik 26,72 persen menjadi 3,12 juta penumpang.
Di sektor internasional, penerbangan mencatat sebanyak 1,54 juta penumpang atau naik 8,14 persen dari tahun sebelumnya. Pergerakan wisatawan nusantara bahkan melonjak drastis hingga 42,10 persen pada Maret 2026 dengan total mencapai 126,34 juta perjalanan.
Sektor pariwisata luar negeri juga menunjukkan penguatan dengan 1,09 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret. Malaysia menjadi penyumbang terbesar dengan 186,53 ribu kunjungan, diikuti Australia sebanyak 130,72 ribu, dan Singapura sebanyak 102,82 ribu kunjungan.
Meskipun angkutan penumpang naik, kinerja logistik menunjukkan hasil yang bervariasi. Angkutan laut domestik berhasil mengangkut 43,24 juta ton barang dan kereta api mengangkut 5,84 juta ton, namun volume barang pada angkutan udara domestik justru turun 15,74 persen menjadi 53 ribu ton.