Kementerian Agama RI menetapkan titik miqat sebagai batas tempat dan waktu bagi jemaah haji Indonesia untuk memulai niat ihram. Dilansir dari Suara, penetapan lokasi ini bertujuan memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan sesuai dengan ketentuan syariat yang berlaku.
Miqat merupakan garis batas krusial di mana setiap individu yang menuju Makkah harus sudah mengenakan pakaian ihram. Setelah melintasi titik ini, jemaah secara resmi terikat pada larangan-larangan ihram hingga proses tahallul selesai dilakukan.
Berdasarkan buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah, batasan ini dikategorikan menjadi dua jenis utama. Pertama adalah miqat zamani yang mengatur rentang waktu pelaksanaan haji, yakni sejak bulan Syawal hingga tanggal 10 Zulhijah.
Kedua adalah miqat makani yang merujuk pada letak geografis untuk memulai prosesi ihram. Lokasi ini bervariasi mengikuti asal arah kedatangan jemaah ke Tanah Suci.
- Dzul Hulaifah atau Bir Ali khusus bagi mereka yang datang dari Madinah.
- Yalamlam diperuntukkan bagi jemaah dari arah Yaman serta wilayah Asia.
- Qarnul Manazil menjadi titik bagi jemaah dari wilayah Najd.
- Juhfah diperuntukkan bagi jemaah dari wilayah Syam.
- Dzatu Irqin merupakan lokasi miqat bagi jemaah dari Irak.
Titik Miqat Utama Jemaah Asal Indonesia
Jemaah asal Indonesia umumnya menggunakan dua lokasi utama untuk mengambil miqat, tergantung pada gelombang keberangkatan mereka. Bagi rombongan gelombang pertama yang mendarat di Madinah, prosesi niat dilakukan di Bir Ali.
Lokasi Bir Ali berjarak sekitar 9 hingga 11 kilometer dari Masjid Nabawi. Di titik ini, jemaah melakukan persiapan mulai dari mandi sunnah, mengenakan kain ihram, hingga melaksanakan salat sunnah ihram sebelum melafalkan niat.
Sementara itu, jemaah yang terbang langsung menuju Jeddah melakukan miqat saat berada di dalam pesawat. Proses niat ihram ini dilakukan ketika posisi pesawat melintasi garis wilayah Yalamlam atau area sekitarnya.
Kru penerbangan biasanya akan memberikan pengumuman resmi sesaat sebelum pesawat mencapai titik tersebut. Hal ini memungkinkan jemaah yang sudah mengenakan ihram sejak dari bandara keberangkatan untuk segera membaca niat.
Lafal Niat Ihram Haji dan Umrah
Terdapat teks tetap yang harus dilafalkan oleh jemaah sesuai dengan jenis ibadah yang dijalankan. Berikut adalah pilihan niat yang lazim digunakan saat berada di lokasi miqat.
Untuk jemaah yang menjalankan Haji Ifrad atau Tamattu, niat yang dibaca adalah:
┘å┘Ä┘ê┘Ä┘è┘ÆÏ¬┘ŠϺ┘ä┘ÆÏ¡┘Äϼ┘Ä┘æ ┘ê┘ÄÏú┘ÄÏ¡┘ÆÏ▒┘Ä┘à┘ÆÏ¬┘Å Ï¿┘É┘ç┘É ┘ä┘É┘ä┘ç┘É Ï¬┘ÄÏ╣┘ÄϺ┘ä┘Ä┘ë ┘ä┘ÄÏ¿┘Ä┘æ┘è┘Æ┘â┘Ä Ïº┘ä┘ä┘Ä┘æ┘ç┘Å┘à┘Ä┘æ Ï¿┘ÉÏ¡┘Äϼ┘Ä┘æÏ®┘ì
"Nawaitul hajja wa ahramtu bihi lillahi ta'ala labbaika Allahumma hajjan."
Artinya: "Aku berniat haji dan berihram karena Allah TaÔÇÖala. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji."
Bagi jemaah yang melaksanakan Haji Qiran atau menggabungkan haji dan umrah sekaligus, lafal niatnya adalah:
┘å┘Ä┘ê┘Ä┘è┘ÆÏ¬┘ŠϺ┘äÏ¡┘Äϼ┘Ä┘æ ┘ê┘ÄϺ┘ä┘ÆÏ╣┘Å┘à┘ÆÏ▒┘ÄÏ®┘Ä ┘ê┘ÄÏú┘ÄÏ¡┘ÆÏ▒┘Ä┘à┘ÆÏ¬┘Å Ï¿┘É┘ç┘É┘à┘ÄϺ ┘ä┘É┘ä┘æ┘░┘ç┘É Ï¬┘ÄÏ╣┘ÄϺ┘ä┘Ä┘ë
"Nawaitul hajja wal 'umrata wa ahramtu bihima lillahi ta'ala."
Setelah melafalkan niat tersebut di lokasi miqat yang telah ditentukan, jemaah melanjutkan perjalanan menuju Makkah dengan menjaga segala larangan selama masa ihram.