Sejumlah perusahaan logistik nasional memilih untuk menahan kenaikan tarif layanan meskipun menghadapi tekanan biaya distribusi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada Rabu (6/5/2026). Langkah ini diambil sebagai strategi menjaga stabilitas pasar dan kualitas pengiriman bagi para pelanggan.
Komisaris J&T Express Iwan Senjaya menjelaskan bahwa perusahaan sedang melakukan evaluasi mendalam terkait dampak biaya operasional. Dilansir dari Ekonomi, pihaknya lebih mengutamakan langkah optimasi internal dibandingkan langsung membebankan kenaikan biaya kepada konsumen melalui penyesuaian tarif.
"Dalam menghadapi kondisi tersebut, kami tengah berfokus pada penguatan efisiensi operasional melalui berbagai langkah optimalisasi," ujarnya Iwan Senjaya, Komisaris J&T Express.
Manajemen J&T mengimplementasikan penguatan kapasitas melalui penggunaan 7.000 unit armada, termasuk kendaraan roda enam untuk mempercepat distribusi paket. Strategi efisiensi ini mencakup pengaturan volume pengiriman serta penyesuaian waktu tempuh tanpa mengurangi standar waktu pengiriman atau SLA.
"Saat ini, belum ada perubahan terhadap tarif layanan Lion Parcel," ujarnya Arif Wibowo, Chief Sales Officer Lion Parcel.
Lion Parcel turut mengevaluasi berbagai faktor operasional dan kebutuhan pasar sebelum mengambil kebijakan tarif baru. Untuk menjaga keterjangkauan ongkos kirim, perusahaan justru meluncurkan produk MINIPACK yang ditujukan bagi pengiriman paket ringan maksimal 300 gram.
Layanan khusus tersebut menawarkan potongan tarif hingga 50 persen dibandingkan layanan reguler, seperti rute Jakarta ke Jayapura yang turun dari Rp99.000 menjadi Rp49.500 per kilogram. Inovasi ini menyasar pelaku usaha kecil dan penjual daring yang sensitif terhadap perubahan biaya logistik.
Sementara itu, sektor logistik darat juga merasakan dampak rembetan berupa kenaikan harga suku cadang, ban, hingga pelumas mesin. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan menyoroti kondisi pasar yang saat ini sedang mengalami kelebihan pasokan armada.
"Memang truk sudah over supply," ujar Gemilang Tarigan, Ketua Umum Aptrindo.
Fenomena kelebihan jumlah armada truk tersebut membuat pelaku usaha kesulitan melakukan penyesuaian tarif secara mandiri. Situasi ini menempatkan sektor transportasi dan logistik dalam tekanan ganda antara biaya operasional yang terus melonjak dan keterbatasan kemampuan untuk meningkatkan harga jual layanan.