Usaha kerajinan rajut asal Kota Malang, Candyco, berhasil memperkuat kapasitas bisnisnya setelah bergabung dengan platform pendampingan LinkUMKM. Seperti diberitakan oleh Investortrust, pelaku usaha kreatif yang berdiri sejak tahun 2020 ini fokus pada produk bunga dan boneka rajut handmade dengan sistem pesanan custom.
Dalam menjalankan roda usahanya, Candyco kini didukung oleh 15 tenaga kerja. Pemasaran produknya telah menjangkau pasar lokal hingga antar kota melalui gerai fisik, jaringan reseller, marketplace, social commerce, skema B2B, serta keikutsertaan dalam berbagai pameran.
Co-Founder Candyco, Adillah Dhianida Khanza, mengungkapkan bahwa pengembangan bisnis rajutan kustom memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, stabilitas usaha sangat bergantung pada konsistensi kualitas produk, kesiapan kapasitas produksi, serta penguatan manajemen sumber daya manusia.
"Candyco berawal dari hobi merajut yang kemudian berkembang setelah melihat peluang pasar serta mendapat dukungan dari orang-orang terdekat untuk mulai menjual produk rajutan. Pada tahap awal, penjualan dilakukan melalui marketplace. Karena dijalankan sambil kuliah, usaha ini sempat vakum pada 2022ÔÇô2023, lalu kembali aktif pada 2024 dan membuka gerai di Kota Malang. Perjalanan hingga mencapai tahap sekarang tidak mudah, terutama dalam beradaptasi terhadap tren pasar serta mengelola SDM agar tetap mampu memenuhi permintaan pelanggan," ujarnya dalam siaran pers, Selasa (31/3/2026).
Guna mempermudah transaksi harian dengan para pelanggan, Candyco telah mengintegrasikan QRIS BRI sebagai metode pembayaran digital. Sementara untuk aspek pengembangan manajemen bisnis, Candyco memanfaatkan program pelatihan terstruktur dari LinkUMKM.
Salah satu program yang diikuti oleh Adillah adalah Seven Days Challenge. Tantangan selama 7 hari tersebut melatih pelaku pelaku usaha untuk memproduksi konten harian lewat pendekatan micro storytelling guna merefleksikan rekam jejak bisnis dan merancang target ke depan.
"Seru karena kami bisa melakukan rewind dan refleksi atas berbagai hal yang sudah dijalankan selama perjalanan membangun bisnis, sehingga membantu kami menyusun strategi ke depan," ungkapnya.
Platform LinkUMKM sendiri mencatat pertumbuhan pemanfaatan yang signifikan. Hingga akhir tahun 2025, lebih dari 14,98 juta pelaku UMKM telah menggunakan layanan pendampingan daring ini untuk memperluas pasar dan mempercepat proses naik kelas.
Ekosistem digital LinkUMKM menyediakan 6 fitur utama yang saling terintegrasi bagi penggunanya. Fitur-fitur tersebut meliputi UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, serta Register NIB, yang dilengkapi dengan lebih dari 750 modul pembelajaran soft skill dan hard skill.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa perkembangan Candyco menjadi potret nyata dari keberhasilan penyaluran program LinkUMKM dalam meningkatkan kompetensi para pelaku usaha lokal.
"Candyco menunjukkan bahwa daya saing UMKM bertumpu pada pengelolaan usaha yang konsisten, kualitas yang terjaga, dan kesiapan memenuhi permintaan pasar. LinkUMKM menyediakan akses pembelajaran, pendampingan, serta program yang aplikatif agar pelaku usaha dapat menata bisnisnya lebih terukur sesuai tahap pengembangan. Melalui penguatan kapasitas tersebut, BRI mendorong UMKM memperluas pasar dan membangun fondasi usaha yang tangguh untuk tumbuh berkelanjutan," pungkasnya.