Sebuah jaket pelampung bersejarah milik penyintas kapal Titanic dijadwalkan masuk meja lelang pada Sabtu, 18 April 2026, dengan nilai taksiran mencapai US$475.000 atau setara Rp7,5 miliar. Artefak langka ini merupakan peninggalan Laura Mabel Francatelli, penumpang kelas satu yang selamat dari tragedi pada 14 April 1912 tersebut.
Nilai jual objek ini diprediksi sangat tinggi karena kondisi historisnya yang unik dibandingkan pelampung lainnya. Dilansir dari Detik Travel, benda yang terbuat dari bahan kanvas dan gabus ini memuat tanda tangan asli dari Francatelli serta tujuh orang penyintas lainnya yang berada di sekoci yang sama.
Balai lelang Henry Aldridge & Son mencatat bahwa artefak ini merupakan satu-satunya jaket pelampung Titanic yang pernah ditawarkan melalui pelelangan publik kepada kolektor global. Sebelum rencana penjualan ini muncul, benda tersebut telah berpindah tangan dari keluarga Francatelli ke kolektor pribadi sejak dua dekade silam.
Francatelli sendiri merupakan sekretaris desainer busana Lady Lucy Duff Gordon yang ikut dievakuasi menggunakan Sekoci No 1 saat kapal menghantam gunung es. Penggunaan sekoci tersebut sempat menjadi kontroversi karena hanya mengangkut 12 orang dari total kapasitas 40 orang yang tersedia.
Andrew Aldridge selaku juru lelang memberikan penegasan mengenai kelangkaan barang ini di pasar kolektor internasional. Sebagian besar jaket pelampung sejenis saat ini sudah menjadi koleksi tetap di berbagai museum dan hampir mustahil untuk diperjualbelikan secara bebas.
"Hanya ada sedikit jaket pelampung penyintas yang masih eksis saat ini," ujar Aldridge, Juru Lelang Henry Aldridge & Son.
Aldridge menambahkan bahwa status benda ini sebagai salah satu relik paling personal dari musibah maritim terbesar sepanjang masa akan menarik minat pembeli dari seluruh dunia. Ia menilai kedekatan emosional jaket ini dengan pemiliknya memberikan nilai tambah yang signifikan.
"Hanya ada sedikit jaket pelampung penyintas yang masih eksis saat ini," ujar Aldridge, Juru Lelang Henry Aldridge & Son.
Setelah peristiwa tenggelamnya kapal tersebut, Laura Mabel Francatelli melanjutkan hidupnya dengan berkarir di industri perhotelan di New York. Ia kemudian kembali ke Inggris dan meninggal dunia pada tahun 1967 dengan meninggalkan jaket pelampung tersebut sebagai warisan sejarah.