Anggota parlemen Lebanon, Najat Aoun Saliba, mengungkapkan tantangan besar dalam upaya pelucutan senjata Hizbullah menjelang pertemuan diplomatik antara Lebanon dan Israel di Washington, Amerika Serikat pada Kamis, 23 April 2026. Penegasan ini muncul sebagai respons atas tuntutan Israel dalam agenda perundingan perdamaian tersebut.
Hambatan operasional militer nasional menjadi alasan utama sulitnya proses penyerahan senjata kelompok milisi tersebut dalam waktu dekat. Dilansir dari Kompas, pihak Tel Aviv memberikan tekanan diplomatik dengan tuduhan bahwa kedaulatan Lebanon saat ini berada di bawah pengaruh Hizbullah yang juga aktif sebagai partai politik resmi.
Pemerintah Lebanon sebenarnya telah menyusun langkah-langkah strategis untuk menangani persoalan persenjataan ini. Namun, Saliba menekankan bahwa penguatan kapasitas milisi selama tiga dekade terakhir membuat posisi tawar Angkatan Bersenjata Lebanon menjadi tidak seimbang secara sumber daya.
"Akan sangat sulit untuk langsung mengatakan bahwa Angkatan Bersenjata Lebanon akan berperan di depan, karena mereka tidak punya sumber daya dan personel yang cukup setelah milisi lebih diperkuat selama 30 tahun dibanding mereka," kata Saliba, Anggota parlemen Lebanon.
Kebutuhan akan intervensi komunitas internasional dianggap sangat mendesak demi menyokong rencana pelucutan tersebut. Dukungan berupa bantuan finansial dan pasokan sumber daya menjadi syarat mutlak agar otoritas resmi Lebanon mampu mengemban tugas keamanan nasional secara mandiri.
Terkait spekulasi bergabungnya Lebanon ke dalam Perjanjian Abraham setelah adanya komunikasi langsung dengan Israel, Saliba memberikan klarifikasi tegas. Posisi Lebanon tetap akan selaras dengan kebijakan kolektif negara-negara Arab dalam menentukan arah hubungan diplomatik ke depan.
"Lebanon adalah bagian Liga Arab dan saya kira kami tidak akan melakukan sesuatu secara unilateral tanpa berkonsultasi dengan sahabat di sana. Mungkin terlalu prematur untuk berbicara tentang ini," kata Najat Aoun Saliba, Anggota parlemen Lebanon.
Agenda utama perundingan di Washington yang difasilitasi oleh Amerika Serikat ini bertujuan untuk membahas kelanjutan gencatan senjata. Selain itu, para delegasi dijadwalkan menjajaki peluang terciptanya stabilitas keamanan jangka panjang antara Lebanon dan Israel.