Lippo Karawaci Raup Laba Bersih Rp 107 Miliar pada Kuartal I-2026

Lippo Karawaci Raup Laba Bersih Rp 107 Miliar pada Kuartal I-2026
Foto: Ilustrasi Lippo Karawaci Raup Laba Bersih Rp 107 Miliar pada Kuartal I-2026.

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencetak laba bersih senilai Rp 107 miliar sepanjang kuartal I-2026 yang didorong oleh tingginya permintaan pasar terhadap produk rumah tapak. Perolehan laba tersebut berasal dari total pendapatan perusahaan yang menyentuh angka Rp 1,80 triliun pada periode yang sama sebagaimana dilansir dari Suara pada Senin (4/6/2026).

Perusahaan pengembang properti ini mencatatkan pra penjualan real estate sebesar Rp 1,95 triliun atau mencapai 32 persen dari target tahunan. Sektor rumah tapak menjadi kontributor utama dengan porsi 84 persen dari total pra penjualan, terutama dari segmen pembeli rumah pertama.

CEO LPKR, John Riady menjelaskan bahwa fokus strategi perusahaan saat ini memang menyasar pasar kelas menengah. Hal ini terbukti dari konsentrasi minat beli yang tetap stabil pada unit hunian vertikal maupun rumah tapak yang terjangkau.

"Permintaan tetap terkonsentrasi pada rumah tapak, khususnya produk di segmen terjangkau dan menengah, yang menjadi fokus utama strategi kami," ujarnya John Riady, CEO LPKR.

Keberhasilan pemasaran ini didukung oleh ekspansi proyek baru, termasuk peluncuran Park Serpong Phase 7 dan Neo 5ense Collection di Cikarang. Proyek-proyek tersebut dirancang untuk menangkap peluang dari pasar massal yang membutuhkan hunian berkualitas dengan harga kompetitif.

Di sisi lain, arus kas operasional LPKR mengalami pertumbuhan 20 persen secara tahunan menjadi Rp 499 miliar. Kondisi ini memperkuat posisi kas perusahaan yang tercatat sebesar Rp 1,62 triliun pada akhir Maret 2026 akibat peningkatan penerimaan dari pelanggan residensial.

Pada tingkat induk perusahaan (Holdco), penjualan residensial memberikan sumbangan sebesar Rp 1,22 triliun. Angka tersebut ditambah dengan penjualan unit komersial Rp 156 miliar, kavling tanah Rp 30 miliar, serta area pemakaman San Diego Hills senilai Rp 33 miliar.

Segmen gaya hidup turut memberikan kontribusi positif dengan perolehan pendapatan Rp 310 miliar dan laba bersih Rp 55 miliar. Meskipun permintaan pasar secara umum sempat melemah, efisiensi operasional pada sektor hotel dan mal tetap menjaga ketahanan bisnis perusahaan.

Data operasional menunjukkan rata-rata tarif kamar hotel bertahan pada angka Rp 639 ribu. Sementara itu, volume pengunjung pusat perbelanjaan naik 6 persen menjadi 11,5 juta orang per bulan, yang menandakan pemulihan sektor ritel terus berjalan.

"Kami akan terus berfokus pada eksekusi di seluruh proyek township kami, sembari tetap menjaga pendekatan yang pruden dalam pengelolaan modal dan operasional," pungkas John Riady, CEO LPKR.

Artikel terkait

Rekomendasi