PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) menorehkan pertumbuhan positif pada kuartal I-2026 dengan membukukan laba bersih senilai Rp71,12 miliar. Kinerja tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 5,37% secara tahunan (year on year/yoy) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp67,49... miliar. Laju positif ini didorong oleh ekspansi pembiayaan yang tumbuh signifikan, seperti dikutip dari Investor Daily.
Hingga akhir Maret 2026, emiten perbankan ini telah menyalurkan total kredit sebesar Rp4,16 triliun. Angka penyaluran tersebut melesat 30,62% (yoy) dari capaian kuartal pertama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp3,18 triliun. Pertumbuhan pembiayaan yang agresif ini menjadi motor penggerak utama yang mendongkrak total aset perseroan naik sebesar 34,72% (yoy) hingga menyentuh Rp6,93 triliun.
Peningkatan performa operasional juga memperluas pangsa pasar perseroan pada segmen dengan imbal hasil tinggi. Pendapatan operasional AMAR tercatat menguat 13,82% (yoy) menjadi Rp527,76... miliar, sedangkan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) terkerek naik 15,58% (yoy) ke posisi Rp370,2 miliar. Indikator ini mempertegas kematangan model bisnis perseroan yang terukur dalam menghadapi sisa kuartal tahun ini.
Pada aspek penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) yang dikelola AMAR melonjak tajam hingga 115,46% (yoy) mencapai Rp2,91 triliun. Akumulasi simpanan masyarakat yang tumbuh pesat ini disiapkan untuk menyokong target ekspansi kredit ke depan. Untuk sepanjang tahun ini, perseroan membidik pertumbuhan pembiayaan yang lebih tinggi daripada proyeksi industri dalam rencana bisnis bank (RBB).
Sebagai perbandingan, Bank Indonesia (BI) mematok target pertumbuhan kredit industri perbankan nasional berada di rentang 8-12% (yoy).
"Kalau di RBB kami belasan hampir 20%, kami lebih tinggi (dari industri)," ujar SVP Finance Amar Bank, David Wirawan di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Mengingat porsi portofolio terbesar perseroan berada pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), manajemen tetap optimistis terhadap ruang pertumbuhan pada semester II-2026.
"Akan menarik kita tunggu mungkin 2-3 bulan ke depan tergantung situasi ekonomi, tapi so far sampai April-Mei ini kami belum melihat banyak perubahan terutama dari sisi kualitas kredit, kami melihat debitur-debitur masih sesuai dengan ekspektasi kami," jelas David.
Pihak manajemen mengharapkan situasi makroekonomi global dapat membaik serta harga minyak dunia menurun agar pelaku usaha kembali bergairah untuk melakukan ekspansi. David juga menegaskan perihal kondisi likuiditas perseroan yang saat ini berada dalam posisi sangat longgar.
"Kalau likuiditas kami justru lumayan luber ya, justru banyak dana memang karena kami untuk mengadopsi growth di Tunaiku dan juga sudah menyiapkan dana karena mau masuk ke segmen korporasi di mana pencairannya pasti nilainya besar," banyolan David.
Kualitas aset emiten berkode saham AMAR ini juga memperlihatkan tren positif yang tecermin dari rasio kredit bermasalah. Rasio non performing loan (NPL) net perseroan berhasil ditekan ke level 0,86%, membaik dari posisi Maret 2025 yang bertengger di angka 1,48%. Di sisi lain, NPL gross tercatat berada di level 8,41% pada Maret 2026, mengalami penurunan bermakna dari periode setahun sebelumnya yang sebesar 10,89%.
ÔÇ£Kualitas aset tetap menjadi perhatian utama kami. Penurunan NPL di tengah pertumbuhan kredit menunjukkan bahwa Amar Bank terus menjaga disiplin risiko, termasuk dalam memperkuat proses analisis dan pengelolaan portofolio kredit,ÔÇØ ujar David.
Dari struktur permodalan, perseroan mengantongi capital adequacy ratio (CAR) yang kokoh sebesar 99,17%, angka yang berada jauh di atas ambang batas minimal ketentuan regulator. Struktur modal yang tebal ini memberikan keleluasaan bagi perseroan untuk melanjutkan penetrasi investasi teknologi, penciptaan produk digital baru, serta optimalisasi sistem manajemen risiko secara berkelanjutan.