Insiden maut melibatkan KRL Commuter Line jurusan Cikarang dan KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek di emplasemen Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 28 April 2026, pukul 20.52 WIB. Peristiwa tragis ini mengakibatkan 15 penumpang KRL meninggal dunia akibat benturan keras antar-rangkaian kereta.
Dilansir dari Megapolitan, kecelakaan bermula saat KRL bernomor PLB 5568A bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi GambirÔÇôSurabaya Pasar Turi di KM 28+920. Sebanyak 240 penumpang kereta jarak jauh dilaporkan selamat, sementara korban jiwa dari pihak KRL telah dievakuasi ke berbagai rumah sakit di wilayah Bekasi.
Salah satu korban selamat, Sausan (30), mengalami luka serius setelah tubuhnya terlempar hingga tersangkut di rak bagasi atas gerbong. Kerabat korban, Yuli, memaparkan bahwa keponakannya saat itu sedang terduduk dan tidak menyadari detik-detik terjadinya kecelakaan karena mengalami syok hebat.
"Posisi duduk di sebelah kiri ya. Dia juga enggak tahu, lagi main HP, jadi langsung bunyi 'brak' gitu. Dia kayak enggak sadar, ingat-ingat posisi udah ada di atas (rak bagasi) yang biasa kita naruh-naruh barang. Nah, dia udah di situ," ujar Yuli.
Sausan ditemukan terjepit di antara tumpukan penumpang lain yang juga terlempar ke bagian atas penyimpanan barang tersebut. Akibat benturan hebat, korban menderita patah tulang lengan dan luka robek pada bagian paha kiri.
"Di bawah dia ada, di atas dia juga ada. Jadi udah ketumpuk-tumpuk. Dia hanya ingat tangannya satu berasa, tapi yang satu udah enggak karena di sini patah. Terus di sini (paha kiri) sobek, celananya juga udah robek," jelas Yuli.
Kabar mengenai kondisi Sausan awalnya sempat diragukan oleh pihak keluarga karena maraknya modus penipuan melalui pesan singkat. Ibu korban tidak menghiraukan panggilan telepon dari nomor tidak dikenal sebelum akhirnya mendapatkan konfirmasi berupa foto dari lokasi kejadian.
"Tahunya pas kejadian itu diteleponin terus karena ibunya merasa nomor asing enggak kenal, dia jadi 'ah nggak ah takut'. Terus ada WA tulisannya, 'Ibu anaknya kecelakaan'. Biasa kan suka ada WA-WA yang gitu ya, hoaks gitu yang minta uang," tutur Yuli.
Proses evakuasi dilakukan dengan memindahkan korban ke peron stasiun sebelum akhirnya dibawa ke fasilitas kesehatan. Kondisi Sausan yang tergeletak lemas saat itu sempat membuat keluarganya sangat terpukul dan khawatir akan nyawa korban.
"Dikirimin fotonya terus, 'Ya Allah', dikiranya udah meninggal gitu. Karena posisi udah tiduran, udah digeletak di peron di bawah ya. Jadi udah ketolong duluan dia," kata Yuli.
Kakak laki-laki korban menjadi anggota keluarga pertama yang tiba di tempat kejadian untuk memberikan bantuan. Saat ditemukan, Sausan masih dalam keadaan linglung dan berulang kali memastikan keberadaannya kepada sang kakak.
"Kakaknya kan yang ke sana duluan ya, kaget. Dia (Sausan) langsung bilang, 'Lemas Kak. Aku masih hidup Kak? Tas aku Kak, handphone aku Kak?'," ucap Yuli.
Tim medis di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi telah melakukan tindakan operasi pemasangan pen untuk menangani patah tulang yang dialami Sausan. Tindakan medis tersebut berlangsung selama empat jam pada hari Selasa siang dan saat ini kondisi korban sedang dalam masa observasi di ruang rawat inap.
Data dari lokasi kejadian menunjukkan para korban meninggal dunia telah tersebar di sejumlah rumah sakit, termasuk RSUD Bekasi, RS Primaya, hingga RS Mitra Keluarga. Otoritas terkait masih melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab pasti tabrakan antara KRL dan kereta api jarak jauh tersebut.