Pemberian penghargaan perdamaian FIFA Peace Prize kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu gelombang kritik dari berbagai tokoh sepak bola dunia. Dilansir dari Bola, penghargaan tersebut telah diserahkan pada Desember tahun lalu dalam sebuah seremoni resmi di Washington DC.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menjelaskan bahwa gelar ini diberikan kepada individu yang dianggap melakukan langkah luar biasa bagi perdamaian global. Penghargaan tersebut ditujukan bagi sosok yang mampu menyatukan masyarakat dunia melalui aksi nyata.
Namun, keputusan ini justru memicu penolakan luas dari publik dan pelaku industri olahraga. Situasi semakin pelik menyusul pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang membuat banyak pihak mendesak agar penghargaan tersebut segera dicabut.
Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, akhirnya angkat bicara menanggapi polemik yang berkembang sejak akhir tahun 2025 tersebut. Menurut Ingle, sang Presiden merupakan sosok yang paling layak menerima penghargaan perdamaian pertama dari badan sepak bola dunia tersebut.
"Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih layak menerima hadiah perdamaian pertama FIFA selain Presiden Trump."
"Siapa pun yang berpikir sebaliknya jelas menderita sindrom gangguan Trump yang parah," tutur Ingle yang dikutip dari Sportbible.
Isu mengenai sosok Donald Trump diprediksi akan terus menjadi pusat perdebatan dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini berkaitan erat dengan gelaran Piala Dunia 2026 yang akan dilangsungkan di kawasan Amerika Utara mulai Juni mendatang.
Kritik dari Pemain dan Federasi
Salah satu suara lantang datang dari penggawa Timnas Australia dan klub St. Pauli, Jackson Irvine. Ia menilai bahwa langkah FIFA memberikan penghargaan tersebut tidak selaras dengan misi kemanusiaan yang seharusnya diusung oleh organisasi sepak bola internasional.
"Sebagai sebuah organisasi, Anda harus mengatakan bahwa keputusan seperti pemberian hadiah perdamaian ini mengolok-olok apa yang mereka coba lakukan dengan piagam hak asasi manusia dan mencoba menggunakan sepak bola sebagai kekuatan pendorong global untuk kebaikan dan perubahan positif di dunia," kata Irvine.
Senada dengan Irvine, Presiden Asosiasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness, bahkan menyerukan agar penghargaan FIFA Peace Prize dihapuskan sepenuhnya. Klaveness menilai Gianni Infantino seharusnya menjaga jarak yang aman dari para pemimpin politik dunia guna menjaga independensi organisasi.
"Kami ingin melihat Hadiah Perdamaian FIFA dihapuskan."
"Kami tidak berpikir bahwa memberikan penghargaan seperti itu adalah bagian dari mandat FIFA. Kami pikir kami sudah memiliki Institut Nobel yang melakukan pekerjaan itu secara independen," ujar Klaveness kepada The Athletic.
Klaveness menambahkan bahwa pemberian penghargaan semacam itu sangat sensitif dan berisiko menjadi instrumen politik jika tidak dikelola dengan kriteria yang independen. Ia menyarankan agar FIFA menghindari situasi yang dapat mempertanyakan integritas tata kelola organisasi di masa depan.
Meskipun tekanan terus mengalir, Gianni Infantino tetap pada pendiriannya membela keputusan organisasi. Ia menegaskan bahwa Donald Trump secara objektif memang layak menerima penghargaan tersebut atas kontribusinya bagi dunia.