Krisis Memori Akibat AI Picu Kenaikan Harga HP Murah Global

Krisis Memori Akibat AI Picu Kenaikan Harga HP Murah Global
Foto: Ilustrasi Krisis Memori Akibat AI Picu Kenaikan Harga HP Murah Global.

Kemajuan teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa dampak yang tidak terduga bagi konsumen gadget. Pengguna kini semakin sulit mendapatkan ponsel dengan harga terjangkau akibat lonjakan biaya produksi.

Kebutuhan infrastruktur pusat data untuk pengembangan AI yang masif sangat bergantung pada komponen chip dan memori. Kondisi ini memicu krisis memori global karena pasokan diprioritaskan untuk industri AI dibandingkan perangkat konsumen.

Dilansir dari Tekno, laporan dari Counterpoint Research dan IDC menunjukkan bahwa pangsa pasar ponsel global pada kuartal I (Q1) 2026 mengalami penurunan. IDC mencatat pengiriman smartphone turun 4,1 persen secara tahunan (YoY) menjadi 289,7 juta unit.

Sementara itu, Counterpoint menaksir penurunan yang lebih tajam mencapai 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kedua firma riset ini sepakat bahwa lesunya pasar disebabkan oleh kelangkaan memori yang mendorong kenaikan harga perangkat.

Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, menjelaskan bahwa ketersediaan memori yang terbatas memaksa produsen memangkas jumlah pengiriman. Harga bahan baku yang melonjak drastis mendesak banyak merek ternama untuk menaikkan harga jual ke konsumen.

"Ketersediaan memori yang terbatas memaksa pemangkasan pengiriman, sementara harga memori yang jauh lebih tinggi mendorong kenaikan biaya bahan baku dan mendesak kenaikan harga oleh banyak merek ternama," kata Popal.

Counterpoint menyoroti kelangkaan terutama terjadi pada tipe memori DRAM dan NAND. Hal ini dikarenakan produsen komponen lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan pusat data AI daripada manufaktur smartphone.

Lonjakan Harga di Pasar Negara Berkembang

Krisis komponen ini berdampak signifikan pada wilayah yang sensitif terhadap harga. Nabila Popal mengungkapkan bahwa di beberapa pasar negara berkembang, harga ponsel mengalami kenaikan mulai dari 40 hingga 50 persen.

"Di beberapa pasar negara berkembang, harga naik hingga 40-50 persen yang berdampak signifikan terhadap permintaan di wilayah yang sensitif pada harga," ujar Popal.

Kondisi serupa sudah terjadi di pasar Indonesia, di mana hampir seluruh vendor telah menyesuaikan harga produk mereka. Kenaikan harga ini ditemukan pada berbagai segmen, mulai dari entry-level, menengah, hingga model flagship.

Tekanan pada Segmen Menengah ke Bawah

Analis Senior Counterpoint Research, Shilpi Jain, menyebutkan bahwa produsen saat ini menghadapi tekanan margin akibat kenaikan biaya produksi atau Bill of Materials (BOM). Sebagian dari beban biaya tersebut akhirnya dibebankan kepada pembeli.

"Tekanan ini lebih terasa di segmen entry-level dan menengah. Sementara segmen premium relatif lebih tahan terhadap tekanan dari kenaikan biaya produksi ini," kata Jain.

Lemahnya daya beli konsumen juga dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global serta tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi pasar yang sulit ini diprediksi masih akan berlanjut setidaknya hingga akhir tahun 2027.

Strategi Vendor Menghadapi Krisis

Menghadapi tantangan ini, vendor smartphone mulai mengalihkan strategi mereka dari mengejar volume penjualan menjadi fokus pada nilai perangkat. Langkah yang diambil mencakup pengurangan model dengan margin rendah dan peningkatan spesifikasi untuk mendorong minat beli.

IDC mencatat bahwa vendor telah melakukan berbagai upaya pengendalian biaya, seperti memangkas anggaran pemasaran dan saluran distribusi. Namun, inovasi tetap menjadi kunci penting di tengah melonjaknya biaya logistik dan energi akibat situasi global.

Fenomena ini juga diprediksi akan meningkatkan minat konsumen terhadap perangkat bekas atau refurbished. Segmen harga terjangkau kemungkinan besar akan beralih ke pasar ponsel bekas sebagai alternatif atas mahalnya unit baru.

Kesaksian Bos Xiaomi dan Nothing

Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengungkapkan secara terbuka dampak krisis ini terhadap perusahaannya melalui media sosial Weibo. Xiaomi harus membayar selisih harga yang sangat besar untuk paket memori dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kenaikan harga memori akhir-akhir ini memang sangat jauh dari ekspektasi, dengan lonjakan harga empat kali lipat dibanding kuartal pertama tahun lalu," kata Weibing.

Untuk paket RAM 12 GB dan penyimpanan 512 GB, Xiaomi membayar lebih mahal sekitar 1.500 yuan atau Rp 3,7 juta per unit dibandingkan Q1 2025. Lonjakan ini paling dirasakan oleh merek Redmi yang selama ini fokus pada harga ekonomis.

CEO Nothing, Carl Pei, juga telah memberikan peringatan serupa melalui akun X resminya. Ia menegaskan bahwa smartphone kini harus bersaing langsung dengan infrastruktur AI dalam mendapatkan pasokan komponen.

"Untuk pertama kalinya, smartphone bersaing langsung dengan infrastruktur AI dan harga memori melonjak tajam, sebagai imbasnya," kata Pei.

Pei menambahkan bahwa strategi pemasaran dengan spesifikasi tinggi dan harga murah tidak akan lagi berlaku tahun ini. Segmen entry-level dan menengah diperkirakan akan mengalami kenaikan harga minimal 20 persen yang membuat banyak produsen merasa kesulitan.

Artikel terkait

Rekomendasi