Krisis iklim diproyeksikan bakal memicu pergeseran jangkauan habitat tumbuhan secara besar-besaran di seluruh dunia. Berdasarkan studi dari Universitas California, Davis (UC Davis), sekitar 7 hingga 16 persen spesies tumbuhan berisiko kehilangan lebih dari 90 persen wilayah jelajahnya.
Kondisi ini menempatkan ribuan jenis flora pada risiko kepunahan yang sangat tinggi, seperti dilansir dari Lestari. Temuan ini diperoleh melalui pemodelan distribusi terhadap 67.664 spesies tumbuhan atau setara 18 persen dari total flora global untuk periode tahun 2081 hingga 2100.
Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) menjadi faktor utama yang memperburuk ancaman terhadap keanekaragaman hayati tersebut. Studi ini menekankan bahwa mitigasi krisis iklim merupakan langkah mendesak yang tidak bisa ditunda demi menekan angka kepunahan spesies.
"Kehilangan ini terutama disebabkan oleh hilangnya habitat akibat perubahan iklim, bukan keterbatasan penyebaran. Dengan demikian, memfasilitasi pergeseran jangkauan dapat mempertahankan kekayaan lokal, tetapi tidak mengurangi kepunahan global," demikian keterangan dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Science dikutip Jumat (8/5/2026).
Ancaman kepunahan ini lebih dipicu oleh hilangnya habitat yang sesuai akibat cuaca ekstrem, bukan karena ketidakmampuan tumbuhan dalam berpindah lokasi. Strategi konservasi yang hanya mengandalkan bantuan manusia untuk memindahkan wilayah jelajah spesies dianggap kurang efektif secara global.
Upaya pemulihan dan perlindungan habitat asli yang terintegrasi dengan langkah mitigasi iklim dinilai sebagai solusi yang lebih mumpuni. Pengurangan emisi secara agresif menjadi prioritas paling krusial untuk menyelamatkan spesies tumbuhan dari kepunahan di masa depan.
"Pada akhir abad ini, sebagian besar habitat yang sesuai akan hilang. Jika prioritas kita adalah mengurangi tingkat kepunahan spesies tumbuhan, maka pengurangan emisi secara agresif akan jauh lebih penting daripada tindakan lainnya," ujar penulis senior studi sekaligus profesor madya di Departemen Ilmu dan Kebijakan Lingkungan UC Davis, Xiaoli Dong.
Tingkat kepunahan tertinggi diprediksi akan melanda wilayah Eropa selatan, Amerika Serikat bagian barat, serta Australia selatan. Wilayah-wilayah ini memiliki banyak spesies tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus merupakan flora purba.
Salah satu contohnya adalah spikemoss (Selaginella) di California yang merupakan garis keturunan tumbuhan berpembuluh tertua berusia lebih dari 400 juta tahun. Selain itu, genus eucalyptus di Australia yang mencakup mayoritas hutan asli juga berada dalam ancaman serius.
Meskipun banyak wilayah kehilangan keanekaragaman hayati, sekitar 28 persen permukaan bumi diprediksi mengalami peningkatan kekayaan spesies lokal secara temporer. Hal ini terjadi karena tumbuhan berpindah mencari wilayah baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
"Daerah yang kemungkinan besar akan mengalami peningkatan kekayaan spesies sebagian besar berada di wilayah basah atau wilayah yang diproyeksikan akan menjadi lebih basah, seperti Amerika Serikat bagian timur, India, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan bagian selatan," tutur penulis utama studi, Junna Wang.
Adaptasi dan Peran Bank Benih
Fenomena perombakan sebaran tanaman di seluruh dunia ini menuntut pendekatan baru dalam strategi konservasi lingkungan. Interaksi baru antar spesies yang belum pernah bertemu sebelumnya diprediksi akan terjadi dan menghasilkan ekosistem yang sulit ditebak.
"Segalanya akan berubah, dan kita harus beradaptasi. Beberapa spesies ini akan bertemu bersama untuk pertama kalinya. Kita akan melihat interaksi baru. Hasilnya sulit diprediksi. Segalanya akan berbeda dari apa yang kita ingat 40 hingga 50 tahun yang lalu," ucap Dong.
Bank benih, taman botani, dan kawasan perlindungan iklim memegang peranan vital dalam menjaga aset genetik, medis, dan budaya dari tumbuhan yang terancam. Pengelolaan ekosistem secara aktif diperlukan untuk menyediakan ruang bagi spesies yang bermigrasi agar bisa menemukan habitat baru.