Aksi pembegalan dan penjambretan di jalanan Jakarta diidentifikasi menggunakan tiga pola utama yang mengandalkan kecepatan, ketidakterdugaan, serta penggentaran terhadap para korban.
Analisis tersebut disampaikan oleh Kriminolog sekaligus Guru Besar FISIP Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, menyusul maraknya kasus kejahatan jalanan dalam beberapa pekan terakhir, seperti dilansir dari Megapolitan pada Selasa (19/5/2026).
"Begal dan jambret itu mengandalkan kecepatan, ketidakterdugaan, dan penggentaran. Tiga hal itu memang sulit dilawan, terutama oleh orang yang berjalan sendirian di jalan sepi pada malam hari," ujar Adrianus Meliala.
Skema kejahatan ini dinilai sangat menyulitkan korban untuk merespons tindakan pelaku, khususnya saat ancaman datang secara tiba-tiba menggunakan senjata tajam.
"Lalu dipepet oleh orang lebih dari satu secara mendadak dan bersenjata tajam. Susah untuk membela diri," kata Adrianus Meliala.
Kejahatan jalanan ini diprediksi akan terus berulang di wilayah ibu kota selama penerapan pola tindakan tersebut masih dinilai efektif oleh para pelaku kejahatan.
"Maka, agar terhindar, modus itu perlu dilawan dengan kontranya: jangan jalan sendirian, apalagi di jalan yg sepi atau di malam hari," kata Adrianus Meliala.
Sejumlah kasus nyata tercatat terjadi di beberapa titik, termasuk aksi pencurian sepeda motor disertai dugaan penodongan senjata api di Jalan Duri Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Peristiwa lain di Jakarta Barat menimpa seorang korban yang dibacok di Jalan Arjuna Selatan setelah berupaya mempertahankan sepeda motor miliknya dari kepungan empat orang pelaku.
Sementara itu di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, empat pelaku bersenjata celurit merampas sepeda motor dan telepon genggam milik dua orang remaja saat melintasi jalan sepi pada malam hari.