Studi Ungkap Konsumsi Kopi Tidak Meningkatkan Risiko Hipertensi

Studi Ungkap Konsumsi Kopi Tidak Meningkatkan Risiko Hipertensi
Foto: Ilustrasi Studi Ungkap Konsumsi Kopi Tidak Meningkatkan Risiko Hipertensi.

Hasil tinjauan terhadap 13 studi kesehatan pada Kamis, 16 April 2026, menunjukkan bahwa konsumsi kopi secara rutin tidak terbukti meningkatkan risiko seseorang terkena hipertensi atau tekanan darah tinggi. Penelitian berskala besar ini melibatkan total 315.000 partisipan untuk mengamati dampak jangka panjang kafein terhadap kesehatan pembuluh darah.

Dilansir dari Detik Health, sebanyak 64.650 orang dari total peserta mengembangkan kondisi hipertensi selama periode pengamatan. Namun, para peneliti menyimpulkan tidak ada keterkaitan langsung antara kebiasaan minum kopi dengan munculnya kondisi medis tersebut pada pasien.

Analisis data tetap menunjukkan hasil yang konsisten meskipun tim peneliti melakukan pengelompokan berdasarkan jenis kelamin, jumlah konsumsi harian, hingga jenis kopi berkafein maupun tanpa kafein. Bahkan, faktor eksternal seperti kebiasaan merokok tidak mengubah temuan bahwa kopi bukan pemicu utama hipertensi.

Secara fisiologis, kafein memang bekerja sebagai stimulan yang merangsang kelenjar adrenal untuk melepaskan adrenalin. Hal ini memicu peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 3-15 poin dan tekanan darah diastolik sekitar 4-13 poin dalam waktu 30 menit hingga dua jam setelah konsumsi.

Selain kafein, kopi mengandung senyawa fitokimia seperti melanoidin dan asam kuinik yang justru memberikan efek positif bagi pembuluh darah. Asam kuinik terbukti mampu memperbaiki lapisan pembuluh darah sehingga sistem sirkulasi dapat mengakomodasi perubahan tekanan darah dengan lebih baik.

Namun, kewaspadaan tinggi tetap diperlukan bagi penderita hipertensi berat atau tingkat 2-3 dengan tekanan darah sistolik di atas 160. Sebuah studi terpisah di Jepang terhadap 18.000 orang dewasa menunjukkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat dua kali lipat pada kelompok ini jika mengonsumsi dua cangkir kopi atau lebih per hari.

Efek kafein dalam tubuh memiliki waktu paruh sekitar 3-6 jam, di mana kadarnya dalam darah akan berkurang setengahnya secara alami. Kecepatan metabolisme kafein tersebut sangat bergantung pada faktor usia, genetik, serta kebiasaan konsumsi harian masing-masing individu.

Artikel terkait

Rekomendasi