Mengonsumsi telur setidaknya dua kali seminggu terbukti dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer hingga 20 persen. Manfaat kesehatan ini bahkan dilaporkan jauh lebih besar bagi individu yang mengonsumsinya lebih sering.
Kabar baik bagi para pecinta telur ini dilansir dari Media Indonesia berdasarkan penelitian terbaru yang melacak puluhan ribu partisipan. Studi dari Loma Linda University di California ini memantau hampir 40.000 pria dan wanita selama periode 15 tahun.
Hasil riset yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition menunjukkan bahwa partisipan yang makan telur lima kali atau lebih dalam seminggu memiliki risiko 27 persen lebih rendah terkena demensia dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya.
Para ilmuwan meyakini bahwa kandungan nutrisi spesifik dalam telur berperan krusial dalam melindungi organ otak dari kerusakan akibat penyakit degeneratif. Terdapat dua nutrisi utama yang disorot dalam temuan ini.
Nutrisi pertama adalah kolin, yang membantu memproduksi asetilkolin. Zat kimia otak tersebut sangat vital untuk menjaga kesehatan sel otak serta mendukung fungsi memori yang baik.
Nutrisi kedua adalah vitamin B12 yang sangat penting untuk fungsi kognitif. Satu butir telur diklaim dapat menyediakan seperempat dari total kebutuhan harian vitamin B12 tubuh manusia.
Aman bagi Jantung
Meskipun telur sering dikaitkan dengan kadar kolesterol tinggi, British Heart Foundation menyatakan bahwa mengonsumsi setidaknya satu butir telur sehari tetap aman bagi sebagian besar orang. Temuan ini memperkuat rekomendasi untuk memasukkan telur sebagai bagian dari diet seimbang guna menjaga kesehatan otak di masa tua.
Di Inggris sendiri, diperkirakan terdapat satu juta orang yang hidup dengan kondisi demensia. Angka kasus tersebut diprediksi melonjak hingga mencapai 1,4 juta orang pada tahun 2040 mendatang.
Dengan belum ditemukannya obat penyembuh yang pasti, langkah pencegahan melalui pengaturan pola makan menjadi sistem pertahanan terbaik. Laporan dari The Lancet Commission on Dementia tahun 2024 juga menyimpulkan bahwa hampir setengah dari kasus demensia di seluruh dunia dapat dicegah atau setidaknya ditunda selama beberapa tahun melalui penanganan faktor risiko gaya hidup, termasuk pola makan dan aktivitas fisik.