Konflik Timur Tengah Pangkas Pasokan LNG Global Hingga 20 Persen

Konflik Timur Tengah Pangkas Pasokan LNG Global Hingga 20 Persen
Foto: Ilustrasi Konflik Timur Tengah Pangkas Pasokan LNG Global Hingga 20 Persen.

Gangguan logistik di Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan pasokan gas alam cair atau LNG global terpangkas hampir 20 persen. Kondisi ini dilaporkan memicu lonjakan harga yang signifikan di berbagai wilayah pengimpor utama pada kuartal kedua 2025.

Berdasarkan laporan kuartal II/2025 yang dilansir dari Ekonomi, Badan Energi Internasional (IEA) mencatat harga gas alam di Asia dan Eropa mencapai titik tertinggi sejak Januari 2023 pada Maret lalu. Fenomena ini menyebabkan terjadinya kontraksi permintaan di pasar-pasar utama pengimpor LNG.

Guncangan pasokan besar tersebut telah mengubah fundamental pasar dan menunda gelombang pasokan baru yang sebelumnya diharapkan. Situasi ini membalikkan tren penurunan harga yang sempat terjadi pada periode Oktober hingga Februari saat perdagangan LNG global meningkat 12 persen.

Faktor cuaca ekstrem di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur turut memperparah keadaan dengan melonjaknya permintaan gas. Ketegangan di Timur Tengah kemudian secara mendadak menghentikan arus kargo melalui jalur laut yang krusial tersebut.

"Kondisi pasar berubah secara tiba-tiba pada Maret ketika konflik di Timur Tengah mengakibatkan penutupan Selat Hormuz secara de facto untuk kargo LNG. Produksi LNG global menurun sebesar 8% secara tahunan, dengan penurunan tajam ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab yang hanya sebagian diimbangi oleh peningkatan produksi dari wilayah lain," tulis IEA.

Penurunan pengiriman LNG ini semakin terasa dampaknya pada April 2026 seiring gangguan yang menyebar luas ke seluruh rantai pasok dunia. Lemahnya permintaan di pasar utama dipengaruhi oleh kombinasi harga tinggi dan kebijakan penghematan konsumsi gas.

Permintaan gas alam di Eropa tercatat menyusut sekitar 4 persen secara tahunan pada Maret 2025. Di sisi lain, beberapa negara di kawasan Asia mulai menerapkan kebijakan pengalihan bahan bakar untuk membatasi penggunaan gas di tengah ketidakpastian pasokan.

IEA memproyeksikan kerusakan infrastruktur pencairan LNG di Qatar akan menghambat pertumbuhan pasokan dan menunda ekspansi global setidaknya selama dua tahun ke depan. Hal ini diperkirakan akan memperpanjang kondisi pasar yang ketat hingga tahun 2027.

"Gabungan efek dari hilangnya pasokan jangka pendek dan pertumbuhan kapasitas yang lebih lambat dapat mengakibatkan hilangnya pasokan LNG kumulatif sekitar 120 miliar meter kubik antara 2026 dan 2030," tulis mereka.

Investasi berkelanjutan di seluruh rantai nilai LNG dan kerja sama internasional dinilai menjadi kunci untuk memperkuat keamanan pasokan. Penggunaan portofolio kontrak jangka panjang yang terdiversifikasi juga disarankan bagi importir guna meredam volatilitas harga saat terjadi gangguan di masa mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi