Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) diprediksi kembali meningkat menyusul insiden serangan kapal menjelang berakhirnya masa gencatan senjata pada Rabu, 22 April 2026. Penyerangan terhadap kapal Iran oleh militer AS tersebut terjadi saat kapal berusaha menembus blokade pelabuhan.
Dilansir dari Kompas, Pengamat Hubungan Internasional Connie Rahakundini Bakrie menilai situasi ini membuat kelanjutan perundingan damai di Pakistan menjadi tidak pasti. Kondisi diperparah dengan pernyataan pihak Iran yang mengonfirmasi ketidakhadiran mereka dalam pertemuan diplomatik tersebut.
Kemungkinan terjadinya konfrontasi fisik tetap terbuka meskipun skala peperangan diperkirakan tidak akan melibatkan kekuatan penuh secara menyeluruh. Connie memberikan analisisnya mengenai potensi bentuk konflik yang akan muncul di wilayah tersebut pada Senin, 20 April 2026.
ÔÇ£Menurut saya, perang kemungkinan bisa terjadi, meski perang (berskala) penuh kemungkinannya enggak terlalu tinggi,ÔÇØ kata Connie Rahakundini Bakrie, Pengamat Hubungan Internasional.
Peningkatan aktivitas militer diperkirakan lebih banyak terjadi di wilayah perairan dan melalui jalur udara sebagai respons atas tindakan yang diambil Amerika Serikat. Penilaian tersebut didasari pada pola manuver militer yang saat ini sedang berlangsung di kawasan konflik.
ÔÇ£Lebih ke eskalasi maritim dan serangan udara, menurut saya nih, dengan apa yang dilakukan oleh Amerika,ÔÇØ tambah Connie Rahakundini Bakrie, Pengamat Hubungan Internasional.
Dampak ekonomi dari ketidakpastian ini diperkirakan akan memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam kurun waktu yang cukup lama. Hal ini berkaitan erat dengan kebijakan Iran yang menutup akses distribusi energi di kawasan strategis Selat Hormuz.
Tersendatnya jalur pasokan gas alam dan minyak dunia akibat penutupan tersebut akan menciptakan risiko tinggi pada pasar global. Connie menekankan bahwa proses pemulihan situasi jalur distribusi ini tetap memerlukan waktu yang sangat panjang.
ÔÇ£Dalam normal situation saja, ada yang bilang nih, kalaupun Selat Hormuz sekarang aman, dibuka, itu akan panjang hingga Desember, dan sekarang orang melihat risikonya sangat tinggi,ÔÇØ ujar Connie Rahakundini Bakrie, Pengamat Hubungan Internasional.