Suasana sunyi kini menyelimuti Pasar Santa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lokasi yang dahulu menjadi pusat kreativitas anak muda tersebut kini tampak lengang dengan lorong-lorong yang kosong dan deretan kios tertutup rapat, seperti dikutip dari Megapolitan.
Kesan ramai yang dahulu melekat pada bangunan tiga lantai ini seolah memudar. Pengunjung yang datang hanya melintas sekilas tanpa menghabiskan waktu lama, jauh berbeda dengan citra Pasar Santa satu dekade lalu sebagai ruang paling hidup bagi kaum urban.
Aktivitas perdagangan di lantai dasar masih berjalan dalam ritme yang sangat lambat. Para pedagang perlengkapan rumah tangga, toko emas, hingga jasa jahit lebih banyak duduk menunggu pembeli di tengah suasana yang minim interaksi.
Kondisi paling kontras terlihat di lantai dua dan tiga, tempat kios-kios kreatif yang dahulu menjadi magnet utama berada. Dennis, seorang pengusaha makanan rumahan yang merintis usaha sejak 2018, merasakan dampak penurunan kunjungan ini secara drastis.
"Kalau dulu sebelum 2020 itu masih enak. Sehari bisa Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta kalau weekend," kata Dennis.
Saat ini, pendapatan harian Dennis tidak lagi menentu dan sering kali merosot tajam. Perubahan ini bukan hanya berdampak pada omzet, tetapi juga hilangnya atmosfer kolektif yang dulu menarik orang untuk datang ke lantai atas.
"Sekarang paling bagus Rp 300.000 sampai Rp 600.000. Kadang kalau lagi sepi banget bisa cuma Rp 150.000," ujar dia.
Fathan, pengelola kedai kopi sejak 2016, juga menjadi saksi masa keemasan pasar tersebut. Dahulu, kedainya selalu dipenuhi pengunjung yang ingin berinteraksi atau bekerja, namun kini arus pelanggan berubah menjadi lebih singkat dan tidak padat.
"Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta," kata Fathan.
Kini, angka tersebut menyusut signifikan dengan rata-rata harian yang lebih rendah. Fathan menilai Pasar Santa kini lebih sering dianggap sebagai tempat persinggahan daripada tujuan utama kunjungan.
"Sekarang rata-rata di Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Kadang bisa di bawah itu kalau weekday sepi," ujar dia.
Dampak Belanja Daring dan Pergeseran ke Blok M
Penurunan serupa dirasakan oleh Theo, pedagang pakaian bekas yang sudah berjualan sejak 2017. Dahulu, kiosnya selalu dipadati pembeli yang mencari barang unik dengan pendapatan harian mencapai jutaan rupiah.
"Dulu itu saya bisa dapat Rp 800.000 sampai Rp 1,5 juta sehari," kata Theo.
Faktor perubahan perilaku belanja masyarakat ke platform daring dinilai Theo menjadi penyebab utama berkurangnya arus orang yang datang langsung ke kiosnya. Kini, pendapatan hariannya turun drastis dibandingkan masa kejayaan.
"Sekarang kadang Rp 200.000 sampai Rp 400.000 sehari sudah bagus," ujar dia.
Hafiz, salah satu pengunjung, mengaku datang kembali ke Pasar Santa hanya untuk bernostalgia. Meskipun beberapa jenis usaha seperti toko vinyl dan kopi masih bertahan, ia merasakan perbedaan besar pada pengalaman ruang yang kini terasa lebih tertutup.
"Dulu saya sering ke sini waktu kuliah. Sekarang sudah jarang, ini baru datang lagi setelah lama," ujar Hafiz.
Hafiz membandingkan kondisi ini dengan kawasan Blok M yang kini kembali populer karena memiliki ruang terbuka yang lebih luas. Hal senada disampaikan oleh Vivian, seorang mahasiswi yang merasa ekspektasinya tidak terpenuhi karena suasana pasar yang terlalu tenang.
"Saya pikir lebih ramai dan lebih banyak tempat unik. Tapi ternyata sekarang lebih tenang," kata Vivian.
Analisis Sosiologis Perubahan Ruang Kota
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menjelaskan bahwa meredupnya Pasar Santa adalah bagian dari dinamika perubahan sosial di ruang kota. Melemahnya ekosistem kreatif di sana disebabkan oleh pergeseran kebutuhan generasi muda.
"Pasar Santa sebelumnya dikenal sebagai ruang berkumpul anak muda dan ruang kreatif. Di sana ada ekspresi kultural dan ekspresi kreatif yang menjadi kekuatan utama," ujar Rakhmat.
Kini, generasi baru lebih cenderung memilih tempat yang memiliki aksesibilitas lebih baik dan fasilitas yang lebih lengkap. Rakhmat menyoroti bahwa keterbatasan ruang fisik di Pasar Santa membuatnya kalah bersaing dengan kawasan yang lebih terintegrasi seperti Blok M.
"Anak muda yang dulu mencari ruang alternatif untuk berekspresi, sekarang cenderung memilih tempat yang lebih terintegrasi, lebih mudah diakses, dan lebih lengkap fasilitasnya," kata Rakhmat.
Pergeseran dari generasi milenial ke Gen Z membawa perubahan cepat dalam memaknai ruang publik. Blok M dinilai menawarkan pengalaman sosial yang lebih kaya dan beragam bagi masyarakat urban saat ini.
"Blok M menawarkan pengalaman yang lebih beragam dan terhubung, sehingga lebih menarik secara sosial dibandingkan ruang yang lebih tertutup," ujar Rakhmat.