Komunitas Baca Bareng SBC Jakarta Sediakan Ruang Membaca Senyap

Komunitas Baca Bareng SBC Jakarta Sediakan Ruang Membaca Senyap
Foto: Ilustrasi Komunitas Baca Bareng SBC Jakarta Sediakan Ruang Membaca Senyap.

Komunitas Baca Bareng Silent Book Club (SBC) Jakarta menyediakan ruang alternatif bagi masyarakat untuk menikmati aktivitas membaca tanpa distraksi di tengah hiruk pikuk kota. Dilansir dari Suara, kelompok ini mengedepankan konsep inklusivitas yang memungkinkan peserta dari berbagai usia hadir dan membaca dalam suasana senyap.

Inisiator Baca Bareng SBC Jakarta, Hestia Istiviani, menjelaskan bahwa komunitasnya tidak menerapkan aturan rumit bagi peserta yang ingin bergabung. Pengunjung cukup datang membawa buku masing-masing dan diperbolehkan pulang sewaktu-waktu sesuai keinginan mereka.

Hestia mengenang kehadiran seorang peserta lanjut usia yang menjadi salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan komunitas ini di Jakarta.

"Waktu itu yang paling tua 92 tahun. Dia diajak oleh anaknya karena mereka suka membaca," kenang Hestia, Inisiator Baca Bareng SBC Jakarta.

Selain kalangan lansia, tren kehadiran keluarga muda yang membawa anak-anak mereka juga mulai meningkat dalam setiap sesi membaca senyap tersebut.

"Sekarang justru banyak keluarga kecil yang datang. Anak-anaknya masih toddler, belum bisa membaca, tapi sudah diajak ikut," ujarnya.

Hestia menyatakan bahwa pertumbuhan komunitas ini dibiarkan berjalan secara alami tanpa mengejar target angka peserta tertentu. Ia lebih memprioritaskan kenyamanan ruang bagi dirinya sendiri dan orang lain agar aktivitas membaca tidak menjadi beban.

"Aku nggak mau bikin ini jadi beban. Kalau bikin event, aku juga ikut membaca," katanya.

Gagasan pembentukan ruang baca ini bersumber dari pola asuh orang tua Hestia di Surabaya yang memberikan contoh langsung mengenai kebiasaan membaca sejak dini.

"Orang tua nggak cuma nyuruh, tapi juga mempraktikkan. Mereka membaca koran, majalah, dan itu yang bikin aku ikut terbiasa," ujarnya.

Melalui gerakan ini, Hestia berupaya mengembalikan esensi membaca sebagai sebuah kebutuhan personal yang menyenangkan daripada sekadar kewajiban formal.

"Membaca itu bukan cuma untuk sekolah atau kerja, tapi juga untuk kesenangan," katanya.

Konsep membaca senyap ini diharapkan dapat direplikasi oleh institusi lain seperti sekolah dan kampus guna memperluas jangkauan budaya literasi yang inklusif.

Artikel terkait

Rekomendasi