Koarmada I Bantah Kekerasan terhadap Prajurit TNI AL Ghofirul Kasyfi

Koarmada I Bantah Kekerasan terhadap Prajurit TNI AL Ghofirul Kasyfi
Foto: Ilustrasi Koarmada I Bantah Kekerasan terhadap Prajurit TNI AL Ghofirul Kasyfi.

Komando Armada (Koarmada) I memberikan penjelasan resmi mengenai kematian prajurit TNI AL, Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi (22), yang disebut meninggal akibat bunuh diri pada Senin (4/5/2026). Dilansir dari Nasional, pihak otoritas mengeklaim pemeriksaan medis dilakukan secara transparan dengan melibatkan keluarga korban.

Kepala Dinas Penerangan Koarmada I Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa menegaskan bahwa hasil visum et repertum dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL) dr. Mintohardjo tidak menunjukkan adanya tanda kekerasan. Pemeriksaan medis tersebut secara resmi diterbitkan pada 26 April 2026.

"Pemeriksaan visum tersebut, juga dihadiri oleh pihak keluarga almarhum," kata Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada I Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa.

Penjelasan tersebut merujuk pada temuan medis yang menyatakan bahwa luka di leher korban merupakan luka tekan melingkar dengan pengelupasan kulit ari. Ary menyebut pola tersebut identik dengan kasus bunuh diri dan membantah isu adanya pendarahan pada area selangkangan.

"Tidak ditemukan pendarahan pada area selangkangan sebagaimana informasi yang beredar. Pemeriksaan visum tersebut, juga dihadiri oleh pihak keluarga almarhum," tegas Ary.

Terkait kehadiran personel di rumah duka sebelum kematian terungkap, Ary menjelaskan hal itu dilakukan karena Ghofirul absen saat pengecekan di kapal. Pihak keluarga kemudian secara resmi menolak otopsi pada 30 April 2026 yang dituangkan dalam dokumen negara.

"TNI AL, dalam hal ini Koarmada I, tetap berkomitmen pada transparansi dan kebenaran fakta," tegas Ary.

Di sisi lain, keluarga korban merasakan adanya sejumlah kejanggalan sejak Ghofirul ditugaskan di kapal tersebut pada Februari 2026. Ayah korban, Mahbub Madani, mengungkapkan bahwa putranya sering mengeluh mendapatkan perlakuan kasar dari senior di tempatnya bertugas.

"Anak saya mengaku dipukul seniornya. Bukan hanya satu tapi sampai puluhan orang," kata Mahbub Madani.

Keluarga menyebutkan bahwa korban sering mengirim pesan minta tolong karena waktu istirahat yang sangat minim dan mengalami intimidasi fisik setiap malam. Ghofirul bahkan sempat menyatakan keinginannya untuk pindah penugasan dari Jakarta ke Surabaya karena tidak kuat dengan kondisi tersebut.

"Bahkan dia bilang tidak kuat dan ingin pindah ke kapal di Surabaya. Saat itu kapalnya dia di Jakarta," ujar Mahbub.

Mahbub menjelaskan bahwa Ghofirul dilaporkan kabur dari kapal oleh dua orang senior yang datang ke rumahnya pada akhir Maret 2026. Namun, hanya berselang satu hari setelah kedatangan tamu tersebut, keluarga justru menerima kabar bahwa korban ditemukan meninggal dunia di dalam kamar kapal.

"Ovy itu bilang kalau siang dia kerja dan malamnya di bantai. Dia selalu tidur jam 2 dan jam 3 sudah dibangunkan lagi. Anak saya juga kerap mengirim pesan minta tolong pada kami," ungkap Mahbub.

Pihak keluarga meragukan narasi bunuh diri yang disampaikan oleh pihak militer karena menilai korban memiliki mental yang kuat sebagai praktisi bela diri. Kejanggalan semakin kuat saat keluarga melihat langsung kondisi fisik jenazah yang tiba di Bangkalan pada 27 April 2026.

"Dua orang itu mengaku komandan di kapalnya mencari anak saya. Katanya anak saya kabur dari kapal," ujar Mahbub.

Keluarga menemukan banyak luka lebam di sekujur tubuh saat peti jenazah dibuka sepenuhnya sebelum proses pemakaman dilakukan. Selain lebam, keluarga juga menyoroti adanya darah di bagian selangkangan dan posisi luka di leher yang dianggap tidak wajar untuk kasus gantung diri.

"Anehnya, sehari setelahnya anak saya ditemukan meninggal dunia di dalam kamar di kapal tersebut. Padahal, kata mereka sebelumnya sudah di geledah di kamar dan anak saya tidak ada," kata Mahbub.

Ketidakpercayaan keluarga juga didasari oleh profil kepribadian korban yang selama ini dikenal sebagai sosok yang tegar. Mahbub menegaskan bahwa pilihan untuk mengakhiri hidup sendiri merupakan hal yang sangat mustahil dilakukan oleh anaknya.

"Bagi kami itu hal yang mustahil dilakukan anak saya. Dia itu orangnya tegar dan dia juga ikut bela diri jadi mentalnya cukup kuat. Pilihan bunuh diri bagi dia rasanya tidak mungkin," ungkap Mahbub.

Kondisi wajah yang lebam saat pertama kali peti dibuka menjadi bukti awal yang membuat pihak keluarga merasa curiga atas penyebab kematian Ghofirul. Hal ini bertentangan dengan penjelasan medis yang menyebutkan tanda tersebut hanyalah proses pengendapan darah pascakematian.

"Di situ saya melihat wajah anak saya lebam-lebam. Itu sudah sangat aneh bagi saya," ujar Mahbub.

Keluarga juga membantah pernyataan senior korban yang menyebutkan bahwa lebam pada tubuh tersebut adalah tanda lahir sejak kecil. Mahbub menegaskan bahwa dirinya sangat mengenal kondisi fisik anaknya dan memastikan tidak ada tanda lahir di bagian tubuh tersebut.

"Lebih aneh lagi, luka di leher anak saya itu di sini (leher bawah). Seharusnya, kalau memang bunuh diri, tali ke atas karena tubuhnya merosot ke bawah," kata Mahbub.

Mahbub kembali menekankan ketidaksesuaian antara fakta fisik yang ia lihat dengan penjelasan yang diberikan oleh pihak terkait. Ia pun sempat menyatakan keinginan kuat untuk menempuh jalur otopsi guna mencari kebenaran atas kematian putranya.

"Dan salah satu seniornya juga bilang lebam di tubuh anak saya itu bukan lebam tapi tanda lahir. Saya kenal anak saya dan tahu tubuh anak saya, dia tidak punya tanda lahir," ujar Mahbub.

Ghofirul Kasyfi kini telah dimakamkan di TPU Kemayoran, Bangkalan, Jawa Timur, setelah jenazahnya tiba di rumah duka pada akhir April lalu.

"Di situ saya bertekad ingin anak saya diotopsi," pungkas Mahbub.

Artikel terkait

Rekomendasi