Peneliti dari George Institute for Global Health memperingatkan maraknya penggunaan istilah bertema lingkungan pada kemasan produk makanan di supermarket Australia yang diduga hanya strategi pemasaran. Temuan ini dilaporkan pada Selasa (12/5/2026) setelah para ahli memeriksa lebih dari 27.000 produk kemasan di jaringan ritel besar di Sydney.
Hasil studi yang dilansir dari Lestari menunjukkan bahwa hampir 40 persen produk mencantumkan pesan keberlanjutan lingkungan. Terdapat 69 jenis klaim berbeda yang ditemukan di rak-rak supermarket, dengan istilah "alami" dan "vegan" menjadi label yang paling sering muncul di kemasan produk tersebut.
Associate Professor Alexandra Jones, pemimpin program tata kelola pangan di institut tersebut, mengungkapkan kekhawatiran terkait orisinalitas label yang beredar di pasar. Ia menekankan bahwa sebagian besar klaim tidak memiliki bukti dari pihak luar yang bersifat independen.
"sebagian besar klaim dibuat sendiri oleh produsen, bukan didukung oleh sertifikasi dari pihak luar," kata Alexandra Jones, Associate Professor George Institute for Global Health.
Kekurangan regulasi yang ketat mengenai pelabelan ini dianggap meningkatkan risiko praktik manipulasi informasi lingkungan atau greenwashing. Jones menilai konsumen saat ini memiliki minat tinggi untuk memilih produk yang berkelanjutan, namun label yang ambigu justru menyulitkan proses pengambilan keputusan.
"alami sering kali tidak memiliki definisi hukum yang pasti, meskipun banyak orang menganggapnya sebagai produk yang lebih sehat atau lebih ramah lingkungan," ujar Alexandra Jones, Associate Professor George Institute for Global Health.
Penelitian lanjutan yang diterbitkan dalam jurnal Cleaner and Responsible Consumption menemukan fakta kontras mengenai emisi karbon. Meskipun beberapa produk berlabel lingkungan memiliki jejak karbon rendah, kategori produk tertentu seperti daging dan permen justru menunjukkan hasil yang berlawanan.
Mariel Keaney selaku penulis utama penelitian mencatat adanya potensi penipuan informasi terhadap pembeli. Produk dengan emisi gas buang tinggi ditemukan menggunakan pesan promosi ramah lingkungan untuk menarik minat konsumen di supermarket.
"ketika produk dengan emisi tinggi memakai pesan seperti "ramah karbon", pembeli mungkin akhirnya malah tertipu, bukannya mendapatkan informasi yang benar," ucap Mariel Keaney, Penulis Utama Penelitian.
Profesor Natalina Zlatevska dari University of Technology Sydney turut menyoroti kebingungan yang dialami masyarakat akibat keberagaman label tanpa standar jelas. Situasi ini memicu perdebatan mengenai perlunya intervensi pemerintah dalam memperketat aturan label lingkungan.
"konsumen kini semakin tertarik untuk memahami dampak lingkungan dari produk-produk yang mereka beli," kata Natalina Zlatevska, Profesor University of Technology Sydney.