Kisah Ukasyah bin Mihshan Sahabat Nabi yang Memeluk Rasulullah

Kisah Ukasyah bin Mihshan Sahabat Nabi yang Memeluk Rasulullah
Foto: Ilustrasi Kisah Ukasyah bin Mihshan Sahabat Nabi yang Memeluk Rasulullah.

Ukasyah bin Mihshan menempati posisi istimewa dalam sejarah Islam sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling setia. Sosoknya dikenal luas karena keberanian di medan perang serta jaminan masuk surga tanpa proses hisab.

Seperti dilansir dari Cahaya, pria yang berasal dari suku Bani Asad ini merupakan pendamping setia Rasulullah dalam berbagai momentum krusial. Perannya sangat aktif, baik dalam urusan harian maupun strategi pertahanan umat.

Loyalitas Ukasyah terhadap perjuangan Islam dibuktikan melalui kehadirannya di barisan terdepan pertempuran besar. Ia tercatat sebagai prajurit yang tangguh dalam Perang Badr, Uhud, hingga Perang Khandaq.

Kesiapannya untuk selalu berada di dekat Nabi Muhammad SAW menjadikannya sosok yang sangat dipercaya. Ketegasan dan kejujurannya menjadi karakter utama yang melekat pada kepribadian Ukasyah selama masa hidupnya.

Jaminan Surga Tanpa Hisab

Keistimewaan terbesar Ukasyah adalah doa khusus yang dipanjatkan Rasulullah untuknya. Nabi Muhammad SAW mendoakannya agar termasuk dalam golongan orang-orang yang memasuki surga tanpa perlu melewati perhitungan amal atau hisab.

Kabar gembira tersebut menjadi bukti kemuliaan kedudukan Ukasyah di mata Nabi. Hal ini tidak lepas dari sifatnya yang penuh hormat serta keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran dalam situasi apa pun.

Momen Qishash yang Mengharukan

Sebuah peristiwa ikonik terjadi di Masjid Nabawi menjelang akhir hayat Rasulullah SAW. Saat itu, Nabi memberikan kesempatan bagi siapa saja yang merasa pernah dizalimi untuk melakukan qishash agar tidak ada perkara tersisa di akhirat.

Di saat para sahabat lain terdiam, Ukasyah bin Mihshan berdiri dan mengingatkan sebuah kejadian masa lalu. Ia menceritakan momen ketika cambuk Nabi secara tidak sengaja mengenai tubuhnya saat sedang mengatur barisan perjalanan.

Ukasyah kemudian meminta haknya untuk membalas cambukan tersebut kepada Rasulullah. Meski para sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Ali, serta cucu Nabi, Hasan dan Husain, menawarkan diri sebagai pengganti, Ukasyah tetap teguh pada permintaannya.

Cinta di Balik Tuntutan Qishash

Ketegangan menyelimuti Masjid Nabawi saat Rasulullah membuka baju dan bersiap menerima balasan. Namun, ketika kesempatan itu tiba, Ukasyah justru melepaskan cambuknya dan langsung memeluk erat tubuh Nabi Muhammad SAW.

Sambil menangis, ia mengungkapkan bahwa permintaan qishash tersebut hanyalah siasat agar kulitnya bisa bersentuhan langsung dengan kulit Rasulullah untuk terakhir kalinya. Tindakan tulus ini mengubah suasana tegang menjadi penuh haru di antara para jamaah.

Kisah ini menjadi refleksi mendalam mengenai hubungan kasih sayang dan penghormatan antara seorang sahabat dengan pemimpinnya. Ukasyah bin Mihshan dikenang bukan sekadar sebagai pejuang, melainkan sebagai pribadi yang mencintai Nabi dengan sepenuh hati.

Artikel terkait

Rekomendasi