Literatur Islam sering kali mengaitkan istilah harta karun dengan sosok Qarun, seorang sepupu Nabi Musa AS yang memiliki kekayaan luar biasa. Dilansir dari Detikcom, saking banyaknya harta tersebut, kunci-kunci gudang penyimpanannya harus dipikul oleh sejumlah orang kuat.
Qarun merupakan putra dari Yashar, yang merupakan adik kandung dari ayah Nabi Musa AS, Imran. Berdasarkan catatan dalam Ensiklopedia Al-Qur'an dan Hadits Per Tema karya M. Yusni Amru Ghazali dkk, sosok ini merupakan keturunan Nabi Ya'qub AS.
Kehidupan awal Qarun sebenarnya jauh dari kemewahan karena ia berasal dari keluarga miskin. Ia kemudian meminta Nabi Musa AS untuk mendoakannya agar diberikan kekayaan, yang kemudian dikabulkan oleh Allah SWT hingga ia memiliki ribuan gudang emas dan perak.
Kekayaan melimpah tersebut digambarkan dalam Al-Qur'an surah Al Qasas ayat 79:
┘ü┘ÄÏ«┘ÄÏ▒┘Äϼ┘Ä Ï╣┘Ä┘ä┘░┘ë ┘é┘Ä┘ê┘Æ┘à┘É┘ç┘û ┘ü┘É┘è┘Æ Ï▓┘è┘Æ┘å┘ÄϬ┘É┘ç┘û █ù┘é┘ÄϺ┘ä┘Ä Ïº┘ä┘æ┘ÄÏ░┘É┘è┘Æ┘å┘Ä ┘è┘ÅÏ▒┘É┘è┘ÆÏ»┘Å┘ê┘Æ┘å┘Ä Ïº┘ä┘ÆÏ¡┘Ä┘è┘░┘êÏ®┘Ä Ïº┘äÏ»┘æ┘Å┘å┘Æ┘è┘ÄϺ ┘è┘░┘ä┘Ä┘è┘ÆÏ¬┘Ä ┘ä┘Ä┘å┘ÄϺ ┘à┘ÉϽ┘Æ┘ä┘Ä ┘à┘ÄϺ┘ô Ϻ┘Å┘ê┘ÆÏ¬┘É┘è┘Ä ┘é┘ÄϺÏ▒┘Å┘ê┘Æ┘å┘Å█Ö Ïº┘É┘å┘æ┘Ä┘ç┘ù ┘ä┘ÄÏ░┘Å┘ê┘Æ Ï¡┘ÄÏ©┘æ┘ì Ï╣┘ÄÏ©┘É┘è┘Æ┘à┘ì ┘º┘®
Artinya: Maka, keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, "Andaikata kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar."
Namun, harta tersebut justru membuat Qarun menjadi sombong dan ingkar terhadap nikmat Tuhan. Akibatnya, ia mendapatkan azab berupa penenggelaman dirinya beserta seluruh hartanya ke dalam tanah hanya dalam waktu satu malam.
Peristiwa pembalasan tersebut diabadikan dalam Al-Qur'an surah Al-Qasas ayat 81:
┘ü┘ÄÏ«┘ÄÏ│┘Ä┘ü┘Æ┘å┘ÄϺ Ï¿┘É┘ç┘û ┘ê┘ÄÏ¿┘ÉÏ»┘ÄϺÏ▒┘É┘ç┘É Ïº┘ä┘ÆÏº┘ÄÏ▒┘ÆÏÂ┘Ä █ù┘ü┘Ä┘à┘ÄϺ ┘â┘ÄϺ┘å┘Ä ┘ä┘Ä┘ç┘ù ┘à┘É┘å┘Æ ┘ü┘ÉϪ┘ÄÏ®┘ì ┘è┘æ┘Ä┘å┘ÆÏÁ┘ÅÏ▒┘Å┘ê┘Æ┘å┘Ä┘ç┘ù ┘à┘É┘å┘Æ Ï»┘Å┘ê┘Æ┘å┘É Ïº┘ä┘ä┘æ┘░┘ç┘É █û┘ê┘Ä┘à┘ÄϺ ┘â┘ÄϺ┘å┘Ä ┘à┘É┘å┘Ä Ïº┘ä┘Æ┘à┘Å┘å┘ÆÏ¬┘ÄÏÁ┘ÉÏ▒┘É┘è┘Æ┘å┘Ä ┘¿┘í
Artinya: Lalu, Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka, tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.
Mengenai nasib akhir Qarun, Tafsir Ibnu Katsir yang mengutip riwayat Ibnu Abbas menyebutkan bahwa bumi terus menelan mereka hingga hari kiamat. Qatadah juga menceritakan bahwa Qarun dan hartanya terus tenggelam sedalam tinggi tubuh manusia setiap harinya.
Terkait fenomena ini, Rasulullah SAW pernah memberikan penjelasan melalui riwayat hasan dari Imam Ahmad yang bersumber dari Abu Sa'id:
"Ketika seorang lelaki dari kalangan orang yang terdahulu sebelum kalian keluar dengan memakai dua lapis kain burdah berwarna hijau dengan langkah yang angkuh, maka Allah memerintahkan kepada bumi (untuk membenamkannya). Lalu bumi menelannya dan ia terus terbenam ke dalam bumi sampai hari kiamat."
Meskipun Al-Qur'an tidak merinci koordinat pastinya, terdapat pendapat kuat yang menyebutkan lokasi tenggelamnya berada di wilayah Mesir. Lokasi tersebut kini dikenal sebagai Danau Qarun atau Bahirah Qarun.
Danau ini berada di Provinsi Fayyum, sebuah kawasan pertanian yang berjarak sekitar 80 kilometer dari pusat kota Kairo. Direktur Wilayah Monumen Fayoum, Ahmed Abd-El'all, menjelaskan bahwa nama Fayoum sendiri berasal dari kata Mesir kuno 'Bayoum' yang berarti danau.
Pada masa lampau, danau ini memiliki ukuran yang sangat luas dan menutupi seluruh wilayah Fayyum saat ini. Sekarang, sisa perairannya masih membentang seluas 53.000 hektare, dan hanya menyisakan puing-puing istana kuno yang dipercaya sebagai peninggalan masa tersebut.