Mengenal Abdullah bin Al-Mubarak Ulama yang Meraih Haji Mabrur Tanpa ke Makkah

Mengenal Abdullah bin Al-Mubarak Ulama yang Meraih Haji Mabrur Tanpa ke Makkah
Foto: Ilustrasi Mengenal Abdullah bin Al-Mubarak Ulama yang Meraih Haji Mabrur Tanpa ke Makkah.

Predikat haji mabrur menjadi pencapaian spiritual tertinggi bagi setiap Muslim yang beribadah ke Tanah Suci. Namun, sejarah Islam mencatat kisah luar biasa tentang seorang ulama yang meraih kemuliaan tersebut tanpa melakukan perjalanan fisik ke Makkah.

Sosok tersebut adalah Abdullah bin Al-Mubarak, seorang ahli hadis dan sufi terkemuka yang hidup pada abad kedua Hijriah. Dilansir dari Cahaya, kisahnya memberikan pelajaran mendalam mengenai prioritas amal dan ketulusan dalam beribadah.

Abdullah bin Al-Mubarak lahir di kota Marwa, Khurasan, pada tahun 118 Hijriah dari latar belakang keluarga sederhana. Ayahnya merupakan keturunan Turki yang pernah menjadi budak, sementara ibunya berasal dari Khawarizmi.

Meski demikian, ia tumbuh menjadi ulama besar yang sangat disegani karena keluasan ilmunya. Ia dikenal memiliki kebiasaan unik, yakni bergantian antara melaksanakan ibadah haji dan berjihad fi sabilillah setiap tahunnya.

Keputusan Membatalkan Haji Demi Kemanusiaan

Kisah fenomenal ini bermula saat Abdullah bin Al-Mubarak telah menyiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Makkah. Ia sudah membawa bekal yang cukup besar dan bersiap membeli hewan tunggangan di pasar Kufah.

Saat berada di perjalanan, ia bertemu dengan seorang wanita miskin yang sedang memasak bangkai burung demi menyambung nyawa anak-anaknya. Wanita tersebut terpaksa melakukannya karena tidak memiliki makanan selama berhari-hari.

Mendengar pengakuan yang memilukan itu, hati sang ulama sangat terguncang. Ia merasa bahwa menyelamatkan nyawa keluarga yang kelaparan jauh lebih mendesak dibandingkan dengan rencana perjalanan hajinya tahun itu.

Tanpa keraguan, Abdullah bin Al-Mubarak menyerahkan seluruh bekal hajinya kepada wanita tersebut. Tindakan ini membuatnya resmi membatalkan keberangkatan ke Tanah Suci pada musim haji tersebut.

Mimpi Bertemu Rasulullah SAW

Kejutan terjadi setelah musim haji berakhir dan para jamaah kembali ke tanah air. Banyak orang menyapa Abdullah bin Al-Mubarak dan memberikan selamat atas ibadah hajinya, padahal ia tidak pernah berangkat.

Keajaiban semakin nyata ketika ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi itu, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa amalnya telah diterima oleh Allah SWT.

Bahkan, Allah mengutus malaikat yang menyerupai Abdullah bin Al-Mubarak untuk menunaikan haji sebagai penggantinya. Kisah spiritual ini banyak termuat dalam literatur adab dan tasawuf klasik.

Perspektif Fikih dan Prioritas Amal

Para ulama menegaskan bahwa kisah ini bukan berarti menggugurkan kewajiban haji bagi yang mampu secara fisik dan finansial. Namun, peristiwa ini menjadi pelajaran tentang konsep fiqh al-awlawiyyat atau prioritas dalam beramal.

Dalam syariat Islam, menyelamatkan nyawa manusia yang kelaparan memiliki urgensi yang lebih tinggi daripada melaksanakan haji sunnah yang dilakukan berulang kali. Prinsip kemaslahatan menuntut pendahuluan kebutuhan yang paling mendesak bagi sesama.

Melalui kisah Abdullah bin Al-Mubarak, umat Islam diingatkan bahwa jalan menuju rida Allah bisa hadir melalui kepedulian sosial. Ketulusan niat dan manfaat bagi sesama menjadi parameter penting dalam menentukan kualitas sebuah ibadah.

Artikel terkait

Rekomendasi