"Dulu saya buka awal-awal di sini, banyak yang usir. (Pedagang) yang dari Pasar Mayestik aja nyamperin ke sini. Sesama tukang sate itu jarang akur," kenangnya Mochamad Haidir, Pedagang Sate Ayam Barokah Mayestik.
Meski mendapatkan tekanan, Haidir bergeming. Ia memiliki insting bisnis yang kuat bahwa kawasan Mayestik yang dikelilingi perkantoran adalah tambang emas bagi pedagang makanan. Keyakinan untuk bertahan di lapak tersebut perlahan membuahkan hasil seiring dengan meningkatnya jumlah pelanggan setia.### Menghadapi Badai PandemiNama Sate Ayam Barokah Mayestik mulai bergaung di telinga para pekerja kantoran di Jakarta Selatan. Namun, saat roda usaha mulai berputar kencang, ujian berat datang dalam wujud pandemi COVID-19 sekitar enam tahun silam. Pembatasan aktivitas membuat jalanan sepi, dan Haidir hampir menyerah pada keadaan."Satu-satunya yang bikin jualan sepi itu waktu COVID. Itu benar-benar bikin saya stres, sampai pernah saya tawarin lapaknya ke orang. Saya bilang, saya mau udahan, bayarin aja," ungkap Mochamad Haidir, Pedagang Sate Ayam Barokah Mayestik.
Keputusasaan itu hampir membuatnya melepas lapak usahanya hanya seharga Rp 50 juta, jauh di bawah harga yang ia harapkan sebesar Rp 150 juta. Beruntung, transaksi tersebut batal terlaksana. Keputusan untuk bertahan di tengah badai itu terbukti menjadi langkah paling krusial dalam hidupnya.Titik balik yang dinanti akhirnya tiba di penghujung tahun 2025. Sebuah ruko kosong yang berada tepat di depan tempatnya berjualan selama bertahun-tahun mendadak ditawarkan untuk disewa. Haidir menyadari bahwa ini adalah momentum langka untuk membawa usahanya ke level yang lebih profesional.### Keberanian Mengakses ModalKeputusan pindah ke ruko tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biaya sewa yang tinggi memaksa Haidir untuk mencari bantuan permodalan. Langkahnya tertuju pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) untuk menutup kekurangan dana."Kemarin kebetulan untuk biaya sewanya ngambil ke BRI. Saya ambil Rp 200 juta untuk sewa ruko setahun dan lain-lain. Karena (usaha) saya sudah punya nama dan langganan, jadi saya beraniin sewa ke dalam meski risikonya gede," jelas Mochamad Haidir, Pedagang Sate Ayam Barokah Mayestik.
Proses pengajuan modal tersebut berjalan tanpa hambatan berarti. Lokasi BRI Unit Mayestik yang berdampingan dengan rukonya membuat komunikasi terjalin lebih personal. Bahkan, para petugas bank sudah lama menjadi pelanggan tetap satainya."Prosesnya cepat ya. Apalagi BRI-nya di samping, jadi saya dekat. Mantrinya juga sering makan di sini, jadi saya sering cerita kalau butuh biaya untuk pengembangan usaha," tambahnya Mochamad Haidir, Pedagang Sate Ayam Barokah Mayestik.
### Lonjakan Omzet dan Transformasi DigitalKeputusan masuk ke ruko memberikan dampak instan yang luar biasa. Jika sebelumnya ia hanya mampu menjual 500 tusuk sehari di pinggir jalan, kini volumenya melesat hingga 2.000 tusuk per hari. Peningkatan empat kali lipat ini membawa angin segar bagi sisi finansial usahanya."Omzetnya tuh masuk ke Rp 8 juta sehari. Paling sepi-sepinya tuh di Rp 5 tidur," ungkap Mochamad Haidir, Pedagang Sate Ayam Barokah Mayestik.
Kini Haidir tidak lagi sendirian. Jika dulu ia sering meminta pembeli mengipasi satainya sendiri karena kewalahan, sekarang ia telah mempekerjakan tiga orang karyawan. Transformasi tidak hanya terjadi pada tempat dan jumlah staf, tetapi juga pada sistem pembayaran."Kalau kemarin saya fokus di QRIS BRI itu sebulannya bisa sampai Rp 80 juta," ungkap Mochamad Haidir, Pedagang Sate Ayam Barokah Mayestik.
Penggunaan sistem pembayaran digital mempermudah Haidir dalam memantau arus kas secara transparan. Pencatatan keuangan yang rapi ini ia harapkan bisa memuluskan langkahnya untuk mendapatkan tambahan modal di masa depan demi impian membuka cabang baru.### Visi Ekspansi dan Kepercayaan PelangganDengan menu yang semakin beragam, mulai dari satai hingga soto dan sop iga, Haidir menargetkan ekspansi ke berbagai titik di pinggir jalan. Ia memproyeksikan kebutuhan modal hingga Rp 500 juta untuk mewujudkan rencana tersebut."Kalau bisa pengajuan (top-up) ditambahin buat buka cabang baru di pinggir-pinggir jalan. Karena pinjaman kemarin itu habis untuk sewa ruko ini saja," ungkap Mochamad Haidir, Pedagang Sate Ayam Barokah Mayestik.
Haidir sangat optimis karena percaya bahwa merek dagangnya sudah cukup kuat untuk bersaing di lokasi baru."Kan kalau sudah punya nama, buka cabang itu gampang dapat pelanggannya ya. Beda kalau orang baru mulai jualan langsung buka baru, itu susahnya," tambahnya Mochamad Haidir, Pedagang Sate Ayam Barokah Mayestik.
Kesetiaan pelanggan memang menjadi pondasi utama Sate Ayam Barokah Mayestik. Agung, seorang pegawai swasta yang sudah berlangganan sejak Haidir masih di trotoar, mengaku tetap setia karena cita rasa dan hubungan baik yang dibangun oleh sang pedagang."Saya sudah langganan dari masih di trotoar di depan. Sering makan di sini, karena bumbu kacangnya beda, lebih manis dan gurih," katanya Agung, Pelanggan.
Agung teringat bagaimana Haidir sering memberikan bonus sebagai bentuk apresiasi kepada pembeli lama."Dulu Mas Haidir sering kasih bonus lontong kalau kita beli banyak, itu yang bikin kita merasa dihargai sebagai langganan. Jadi namanya 'Barokah' itu benar-benar terasa ke pembeli," tambahnya Agung, Pelanggan.Kisah sukses Haidir merupakan representasi dari peran vital UMKM bagi ekonomi Indonesia. BRI sendiri mencatat pertumbuhan aset yang solid dan terus berkomitmen mengalirkan kredit ke sektor riil guna menjaga stabilitas ekonomi kerakyatan.
"Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI," jelas Hery Gunardi, Direktur Utama BRI.