Kisah Es Teh Gentong Manggarai: Rutinitas Manis yang Sulit Dilepas

Kisah Es Teh Gentong Manggarai: Rutinitas Manis yang Sulit Dilepas
Foto: Ilustrasi Kisah Es Teh Gentong Manggarai: Rutinitas Manis yang Sulit Dilepas.

Di tengah riuh aktivitas permukiman padat RW 07 Manggarai, Jakarta Selatan, es teh gentong bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Bagi sebagian warga, minuman manis dingin dalam plastik bening itu telah menjadi kebutuhan harian yang selalu masuk dalam daftar pengeluaran. Di Manggarai, minuman ini dikenal sebagai es teh gentong karena disiapkan dalam ember plastik bening berukuran besar sebelum dituangkan ke dalam kantong plastik. Di beberapa tempat lain, minuman serupa juga disebut ÔÇ£es cekekÔÇØ karena dikemas dalam plastik yang harus digenggam saat diminum.

Sejak pukul 09.00 WIB, warung es teh gentong di RW 07 sudah mulai ramai pembeli. Sebagian warga bahkan memiliki kebiasaan mengonsumsi es teh gentong saat bangun tidur atau sebelum beraktivitas, sementara lainnya menjadikannya pelengkap makan siang. Bagi sebagian warga, kebiasaan ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi rutinitas yang sulit ditinggalkan.

Anggaran Khusus demi Kesegaran Harian

Salah satu warga, Yati (53), mengaku hampir tidak pernah melewatkan es teh gentong setiap hari, terutama saat makan siang.

"Di atas jam 12.00. Biasanya makan siang, pas makan siang minumnya tuh selalu es teh," kata Yati, Warga.

Ibu dua anak ini mengatakan kebiasaan tersebut sudah melekat sejak kecil, sehingga terasa ada yang kurang jika tidak mengonsumsinya. Hal itulah yang membuatnya menyiapkan anggaran khusus setiap hari.

"Ada (budget khusus), minimal kalau sekali beli kan Rp 2.000 tuh, minimal ya tiga kali, Rp 6.000 lah," tutur Yati, Warga.

Dalam sebulan, Yati memperkirakan mengeluarkan sekitar Rp 180.000 untuk membeli es teh gentong, bahkan bisa lebih jika frekuensi pembelian meningkat. Ia juga mengaku tetap akan membeli meski harga naik.

"Ya mau naik mau ini juga namanya kalau sudah faktor kebutuhan sih ya dibeli-beli aja sih sebenarnya," kata Yati, Warga.

Yati menyadari kebiasaan mengonsumsi es teh manis setiap hari memiliki risiko bagi kesehatan, namun ia mengaku sulit menguranginya.

"Sebenarnya kami tahu ada bahayanya kalau kami minum, apalagi minuman manis sama dingin kan. Tapi bagaimana ya, namanya sudah jadi kebiasaan pokok sehari-hari," ungkap Yati, Warga.

Ia mengaku lebih percaya pada es teh gentong yang dijual di lingkungan tempat tinggalnya karena dibuat menggunakan gula asli.

"Kami juga enggak takut-tukun minum es, kecuali kalau di luar, di jalan-jalan besar itu kami juga enggak berani minum es-es kayak gitu karena manisnya sudah beda," ucap Yati, Warga.

Antara Kebutuhan dan Kesadaran Kesehatan

Hal serupa disampaikan Yunita (30), yang sejak kecil terbiasa mengonsumsi es teh gentong setiap hari.

"Sebenarnya, dari kecil tuh udah biasa minum es teh gentong. Bahkan, dulu setiap abis makan enggak pernah lupa beli," ungkap Yunita, Warga.

Menurut dia, es teh gentong dapat meningkatkan nafsu makan dan membuatnya merasa kurang jika tidak mengonsumsinya. Dulu, Yunita juga menyiapkan anggaran harian sekitar Rp 4.000 hingga Rp 10.000 untuk membeli es teh. Seiring waktu, Yunita mulai mengurangi konsumsi es teh manis karena tengah menjalani program kehamilan dan perlu menurunkan berat badan.

"Kadang kalau pengin banget, ya, minum aja tapi enggak sesering dulu, karena kalau kebanyakan minum es teh manis sekarang badan langsung ngerasa berat enggak tahu kenapa," kata Yunita, Warga.

Untuk menyiasatinya, Yunita mulai mengonsumsi teh tanpa gula yang dibuat sendiri di rumah. Warga lain, Rani (30), juga mulai membatasi konsumsi es teh gentong.

"Paling sehari sekali, kadang enggak habis. Itu juga kadang join, karena selain es teh saya minum kopi. Jadi saya batasin sehari maksimal satu kali," tutur Rani, Warga.

Peringatan Medis di Balik Rasa Manis

Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Pondok Indah ÔÇô Pondok Indah, Liliana, menjelaskan bahwa konsumsi es teh sebenarnya aman jika tanpa tambahan gula. Ia juga mengingatkan agar es teh tidak dikonsumsi bersamaan atau setelah makan lauk hewani yang mengandung heme, seperti daging sapi, kambing, dan babi, karena dapat mengganggu penyerapan zat besi.

"Batas aman kandungan gula tambahan pada minuman atau makanan untuk anak dua tahun ke atas dimulai dari 25 gram atau dia sendok makan, hingga usia dewasa 50 gram atau empat sendok makan," ucap Liliana, Dokter Spesialis Gizi Klinik.

Liliana menambahkan, kelebihan gula dapat memicu penumpukan lemak, meningkatkan risiko obesitas, hingga merusak kesehatan gigi. Konsumsi teh manis secara rutin dapat meningkatkan preferensi rasa manis, sehingga seseorang cenderung bergantung pada makanan atau minuman bergula.

"Dari masalah obesitas dapat berlanjut ke diabetes tipe dua akibat perilaku hidup yang tidak sehat," jelas Liliana, Dokter Spesialis Gizi Klinik.

Artikel terkait

Rekomendasi