Kisah Eka Budi Utami Bangun Naeka hingga Tembus Pasar Internasional

Kisah Eka Budi Utami Bangun Naeka hingga Tembus Pasar Internasional
Foto: Ilustrasi Kisah Eka Budi Utami Bangun Naeka hingga Tembus Pasar Internasional.

Peluang bisnis baru diambil oleh Eka Budi Utami, perempuan berusia 39 tahun asal Purworejo, di tengah pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Setelah berhenti bekerja pascamelahirkan, ia merintis usaha modest fashion muslim bernama Naeka yang kini berkembang menjadi brand mukena premium hingga menembus pasar internasional.

Perjalanan usaha tersebut berkembang pesat lewat dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Rumah BUMN BRI Jakarta, seperti dilansir dari Media Indonesia. Eka mengikuti berbagai pelatihan mulai dari pengelolaan keuangan, pengembangan kemasan produk, hingga strategi memperluas pasar global.

Sebelum sukses, Eka sempat dihadapkan pada situasi sulit berupa penipuan oleh rekan produksi yang membawa lari gaji penjahit saat membangun konveksi sendiri. Bisnis ini awalnya juga bukan bergerak di bidang pakaian muslimah, melainkan perlengkapan bayi yang kemudian dinilai sulit berkembang.

ÔÇ£Karena waktu itu habis melahirkan, saya idealis ingin bikin produk bayi. Tapi ternyata kami belajar dari kegagalan dulu,ÔÇØ ujarnya kepada Media Indonesia di kantor pusat Naeka, Jagakarsa, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Nama Naeka sendiri merupakan gabungan dari nama adik iparnya, Rina, dan Eka. Setelah gagal di produk bayi, mereka mencoba masuk ke segmen produk muslimah dengan sistem maklon jilbab yang ternyata mendapat respons sangat baik dari pasar.

Momentum Pandemi dan Kualitas Premium

Naeka meluncurkan produk mukena pertamanya pada Ramadan 2020 dengan memanfaatkan kain motif dari toko biasa karena belum memahami proses pencetakan desain sendiri. Meski dijalankan secara daring tanpa promosi besar, omzet penjualan pada Lebaran pertama saat pandemi mencapai Rp45 juta.

"Pandemi tuh bukan jadi penghalang bisnis kami. Justru di tahun kedua covid-19, makin besar lagi omzet yang kami dapat," katanya.

Untuk menjaga konsistensi kualitas, Eka membangun konveksi sendiri pada tahun 2021 dengan tenaga kerja dari Garut, Cilacap, dan Jawa Tengah. Naeka berfokus pada mukena motif cetak berbahan sutera (silk) premium berkarakter warna pastel dengan rentang harga Rp255 ribu hingga Rp685 ribu.

ÔÇ£Kita mesti punya value sendiri,ÔÇØ tegasnya.

Eka memilih mempertahankan standar internal dari penjahitan hingga quality control (QC) demi menjaga kualitas bahan dan produk. Saat ini, Naeka juga sedang mengurus berbagai sertifikasi serta legalitas usaha seperti TKDN dan izin industri untuk memperluas jaringan retail modern.

Pendampingan Rumah BUMN BRI Jakarta

Bisnis Naeka semakin terarah setelah bergabung menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI Jakarta pada tahun 2023 melalui proses kurasi di Instagram. Pelatihan yang diberikan meliputi pemisahan pencatatan keuangan pribadi dan usaha, penataan display, hingga penggunaan kemasan art box yang lebih profesional.

ÔÇ£Kalau mau go global, packaging itu penting banget,ÔÇØ ucapnya.

Selain pelatihan keuangan dan kemasan, BRI memberikan dukungan promosi digital lewat program potongan harga khusus bagi pengguna debit serta BRImo. Keikutsertaan dalam bazar seperti di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada 2023 bahkan sukses mendongkrak omzet penjualan hingga Rp45 juta.

"Aku seneng banget bisa dapat kesempatan itu dari BRI yang aktif mengajak kami mengikuti bazar," imbuhnya.

Menembus Pasar Global dan Tantangan Ekspor

Melalui kegiatan business matching pada tahun 2025, Naeka berhasil menarik minat buyer asal Senegal yang meminta penyesuaian material menjadi bahan katun yang lebih cocok dengan cuaca panas di sana. Selain Senegal, produk Naeka juga rutin dikirim ke pelanggan di Kanada serta Singapura dengan nilai transaksi Rp15 juta hingga Rp20 juta sekali pesan.

Naeka juga menampilkan produknya hingga ke Jepang melalui ajang Jakarta Muslim Fashion Week 2026. Menurut Eka, peluang ekspor modest fashion Indonesia sangat besar, namun biaya logistik internasional masih menjadi kendala utama bagi pelaku UMKM.

"Memang masalah ongkos pengiriman ke luar negeri itu menjadi sesuatu yang fundamental bagi UMKM. Karena ini akan memengaruhi cost dan harga produk," ucapnya.

Eka berharap ke depan ada lokakarya lanjutan yang lebih spesifik membahas mekanisme ekspor serta perluasan program pertemuan bisnis dengan buyer global.

ÔÇ£Yang penting konsisten dan jaga kualitas,ÔÇØ katanya.

Tantangan Digitalisasi dan Permodalan UMKM

Koordinator Rumah BUMN Jakarta, Jajang Rohmana, membenarkan bahwa Naeka mengalami pertumbuhan penjualan yang signifikan setelah rutin dilibatkan dalam pameran gratis dan program BRIncubator dari BRI. Namun, ia mencatat adanya tantangan permodalan yang kerap dihadapi UMKM saat mendapat pesanan ekspor dengan sistem pembayaran di akhir.

ÔÇ£Beberapa UMKM ketika mendapatkan buyer dari luar negeri, mereka terkendala pada pembayarannya. Pembayaran biasanya dilakukan setelah barang sampai di sana. Sementara UMKM perlu modal yang cukup besar untuk proses produksi dan pengiriman supaya usaha mereka tetap berkembang,ÔÇØ kata Jajang saat dihubungi Media Indonesia.

ÔÇ£Perlu dukungan penuh juga dari pemerintah untuk mengawal UMKM ini bisa sampai ekspor,ÔÇØ katanya.

Jajang menambahkan, pengelolaan SDM dan konsistensi digitalisasi juga menjadi kendala utama bagi sebagian besar UMKM binaan. Banyak pelaku usaha yang belum optimal mengelola akun marketplace secara berkelanjutan, bahkan sering kali terkendala masalah teknis sederhana seperti lupa kata sandi akun toko daring mereka.

ÔÇ£SDM khusus seperti mengelola admin media sosial dan marketplace itu penting. Sehingga ada pertumbuhan di marketplace yang membuat UMKM terus berkembang,ÔÇØ katanya.

ÔÇ£Kami mendorong digitalisasi UMKM, tetapi masih banyak yang terkendala hal sederhana seperti lupa password email atau akun toko online. Kadang mereka sudah punya toko online, tetapi tidak bisa maintain karena lupa akunnya,ÔÇØ ujar Jajang.

Artikel terkait

Rekomendasi