Kisah Baker's Gram, Meracik Warisan Rasa Menjadi Kafe Modern

Kisah Baker's Gram, Meracik Warisan Rasa Menjadi Kafe Modern
Foto: Ilustrasi Kisah Baker's Gram, Meracik Warisan Rasa Menjadi Kafe Modern.

Aroma kopi segar yang berpadu dengan keharuman panggangan kue langsung menyergap siapa saja yang melangkah masuk ke dalam BakerÔÇÖs Gram di kawasan Gunung Sahari, Jakarta. Di balik deretan stoples dan pajangan kue yang tertata rapi di kafe modern ini, tersimpan sebuah narasi panjang tentang dedikasi, resep keluarga yang melintasi generasi, dan ketekunan yang diuji oleh masa.

Perjalanan panjang ini sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum papan nama kafe terpasang gagah, tepatnya ketika sang pemilik, Ratna, masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Pada masa remaja itu, jemari Ratna sudah terbiasa dengan kelembutan tepung dan mentega saat membantu ibunya mengelola toko roti keluarga. Toko roti tersebut awalnya merupakan bagian terintegrasi dari lini usaha bridal house atau penyedia kebutuhan pernikahan milik keluarga mereka. Hingga hari ini, saat usaha tersebut telah bersulih rupa menjadi tempat nongkrong yang trendi, Ratna tetap memilih setia pada fondasi rasa masa lalu.

"Ini usaha turun-temurun dari ibu saya, bahkan resepnya juga dari zaman dulu," ujar Ratna saat ditemui pewarta beberapa waktu lalu.

Sejak usia belia, ritme hidup Ratna memang telah ditempa oleh dunia kerja. Ketika teman-teman sebayanya menghabiskan waktu luang untuk bermain atau sekadar berkumpul, sebagian besar waktu Ratna justru terserap di dalam ruang produksi bakery dan kesibukan mempersiapkan pesta pernikahan. Pengalaman masa muda yang sarat dengan tanggung jawab ini membentuk etos kerja yang kuat, walau harus dibayar dengan hilangnya momen-momen santai khas remaja.

Tuntutan usaha keluarga di bidang pernikahan menuntut komitmen yang tidak mengenal kalender merah. Ketika musim pernikahan tiba dan pesanan menumpuk, seluruh anggota keluarga harus bersiap mengorbankan waktu istirahat mereka demi kepuasan pelanggan.

"Karena jadwal kerja yang padat, saya kurang menikmati masa remaja pergi bareng teman-teman," katanya.

Pada masa awal operasionalnya, dapur bakery keluarga tersebut lebih berfokus memproduksi kue-kue dalam dimensi besar untuk memenuhi kebutuhan pesta pernikahan, melengkapi paket busana hingga kue pengantin yang megah. Namun, dinamika pasar terus bergerak dan selera konsumen mulai bergeser ke arah yang lebih praktis. Membaca perubahan tren tersebut, Ratna kemudian melahirkan inovasi dengan menyajikan varian produk bakery yang memiliki ukuran lebih ringkas dan mudah dibawa ke mana saja.

"Dulu memang kita bikin bolu-bolu jadul, basic resepnya dari Jepang," ucapnya.

Perubahan wujud produk ini pada akhirnya menuntut sebuah identitas baru yang lebih segar. Nama BakerÔÇÖs Gram kemudian lahir dari sebuah dialog santai dan hangat antara Ratna dan sang buah hati. Jauh sebelum nama ini melekat, usaha kuliner keluarga tersebut beroperasi di bawah bendera Golden Cake. Melalui perbincangan itu, Ratna menyadari perlunya sebuah nama yang mampu mencerminkan esensi mendalam dari keahlian yang telah ia tekuni selama puluhan tahun. Kata 'baker' dipilih karena julukan pembuat roti itu sudah begitu melekat pada identitas dirinya, sementara 'gram' melambangkan presisi mutlak yang menjadi kunci keberhasilan seorang pembuat kue dalam menakar bahan-bahan baku.

"Saya memang dijuluki baker. Nah, kenapa gram? Karena hanya baker yang bisa mengatur gram atau takaran. Yang bisa meracik ya baker," tuturnya sambil tersenum.

Bangkit Setelah Pandemi

Alur kehidupan sempat membawa Ratna keluar dari lingkaran bisnis keluarga ketika ia memutuskan untuk meniti karier sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Namun, hantaman pandemi melanda pada tahun 2022, menciptakan badai ekonomi yang membuat perusahaan tempatnya bernaung mengalami tekanan berat akibat seretnya aliran investasi. Di tengah situasi yang tidak menentu tersebut, insting wirausaha Ratna kembali memanggilnya pulang ke dunia kuliner, memicu keputusannya untuk menghidupkan kembali bisnis bakery.

"Tantangan membangun BakerÔÇÖs Gram itu seperti mulai dari nol lagi," katanya.

Langkah awal berdikari kembali ini tidak dijalani dengan tangan kosong; modal utama Ratna adalah jejaring bisnis dan kolega lama yang telah ia rawat dengan baik. Respons pasar ternyata melompat di luar ekspektasi, terutama ketika momentum perayaan Natal dan tahun baru tiba, di mana pesanan datang mengalir deras tanpa henti.

"Waktu awal mulai, kita sampai produksi 18 jam sehari saat Natal. Istirahat cuma enam jam," ujarnya.

Skala pasar BakerÔÇÖs Gram pun meluas melampaui batas wilayah ibu kota, menjangkau para pencinta kuliner di kota-kota lain, termasuk Surabaya. Demi menjaga agar cita rasa dan kelembutan kue tidak berkurang sedikit pun selama perjalanan, Ratna menerapkan standardisasi pengiriman menggunakan layanan kilat agar produk tetap berada dalam kondisi prima saat tiba di tangan konsumen.

Menjaga Kualitas

Konsistensi rasa dan tekstur menjadi hukum yang tidak boleh ditawar dalam dapur produksi BakerÔÇÖs Gram. Dalam setiap sesi pemanggangan, jumlah kue yang dimasukkan ke dalam oven diatur secara ketat, yakni berkisar 45 kue yang ditata dengan formasi presisi 5 x 9. Pola penataan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah teknik agar distribusi hawa panas di dalam oven dapat tersebar secara merata ke setiap sudut adonan.

"Jumlah ideal tetap 45 agar kualitas tetap terjaga," kata Ratna.

Dalam membesarkan lini bisnis ini, Ratna memilih jalan yang realistis dan terukur, di mana struktur modal kafe dibangun secara bertahap dari akumulasi keuntungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

"Modalnya bertahap banget. Yang penting jadi dulu. Kalau ada uang ya lanjut, kalau belum ada ya dibiarkan dulu," ujarnya.

Ketabahan tersebut kini membuahkan hasil nyata, di mana BakerÔÇÖs Gram telah bertransformasi dari sekadar toko kue rumahan menjadi sebuah kafe modern yang menawarkan ruang komunal yang nyaman. Menu yang disajikan pun semakin kaya, mulai dari kelembutan japanese square cake, gurihnya pastry isi ayam dan sapi, racikan kopi modern, hingga variasi menu sarapan dan hidangan utama yang menggugah selera.

Langkah profesionalisme kian dimatangkan Ratna dengan mendirikan badan hukum berbendera PT Genta Tata Boga pada akhir Desember 2024. Langkah strategis ini diambil sebagai perwujudan kepatuhan terhadap regulasi usaha yang ditetapkan oleh pemerintah. Kini, aspek legalitas BakerÔÇÖs Gram telah berdiri kokoh, ditandai dengan kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB) dari sistem Online Single Submission, sertifikasi halal resmi, hingga izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Akselerasi bisnis ini juga tidak lepas dari keputusan Ratna untuk bergabung menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI Jakarta sejak tahun 2024. Melalui wadah pembinaan ini, ia mendapatkan akses luas untuk mengikuti rangkaian pelatihan komprehensif, mulai dari strategi pemasaran digital, pengelolaan e-commerce, hingga pengurusan sertifikasi halal melalui jalur self-declare.

"Saya dikenalkan ke BRI oleh teman saat ikut pelatihan di Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menweenah Provinsi DKI Jakarta," tuturnya.

Bagi Ratna, pemahaman mengenai lanskap dunia digital merupakan pilar fundamental yang wajib dikuasai oleh setiap pelaku usaha di era pascapandemi demi menjaga relevansi bisnis.

"Setelah covid-19 memang harus digital. Walaupun saya merasa digital saya belum baik. Kalau digitalnya sudah baik, biasanya penjualan online juga sudah banyak," katanya.

Guna mengejar target tersebut, Ratna secara konsisten terus membenahi estetika media sosial serta merapikan sistem manajemen internal usaha guna memastikan seluruh produk yang keluar dari dapurnya memiliki kualitas yang stabil. Menariknya, bagi Ratna, nilai tertinggi dari program Rumah BUMN BRI bukan sekadar perolehan teori bisnis semata, melainkan terciptanya ekosistem jejaring sosial yang mempertemukannya dengan sesama pelaku UMKM.

"Yang paling berdampak buat saya itu saya jadi punya banyak teman UMKM. Jadi kita sama-sama semangat. Kita lihat kemasan teman bagus, cara jualannya menarik, lalu jadi inspirasi buat kita," katanya.

Daya kreativitas Ratna kian terasah di ruang pelatihan, khususnya dalam materi perancangan kemasan produk. Memiliki ketertarikan personal di bidang seni visual, Ratna memilih untuk menggarap sendiri seluruh konsep estetika dan visual yang melekat pada identitas BakerÔÇÖs Gram.

"Stiker BakerÔÇÖs Gram saya desain sendiri. Tinggal dibawa ke percetakan lalu dicetak karena ukuran dan desainnya sudah saya atur," ujarnya.

Komitmen untuk menyerap ilmu baru dibuktikan Ratna dengan kehadirannya yang konstan dalam setiap sesi pelatihan rutin bulanan berdurasi dua jam yang diselenggarakan oleh Rumah BUMN BRI.

"Kalau ada pelatihan saya ikut saja. Saya termasuk yang rajin datang," katanya.

Dukungan nyata dari pihak perbankan tidak berhenti pada ruang kelas pelatihan, melainkan mencakup aspek perluasan pasar melalui fasilitasi program siaran langsung di platform digital Rumah BUMN BRI.

"BRI bantu saya untuk live shopping. Itu sangat membantu karena jadi promosi gratis," ujarnya.

Langkah inovasi yang tiada henti ini melahirkan beragam varian rasa baru pada lini bolu kotak andalannya, mulai dari rasa vanilla, cokelat, kopi, matcha, hingga alpukat. Penambahan menu pastry dan minuman kopi ini terbukti menjadi motor penggerak baru yang mendongkrak kurva pendapatan usaha, di mana omzet bulanan BakerÔÇÖs Gram kini sukses menyentuh angka Rp60 juta hingga Rp70 juta.

Jadi Tempat Favorit Pelanggan

Transformasi BakerÔÇÖs Gram menjadi kafe modern mendapat sambutan hangat dari masyarakat urban Jakarta. Salah satu pelanggan setianya, Ridho, mengungkapkan bahwa kafe ini telah menjadi destinasi reguler tempatnya menghabiskan waktu sore sembari menunggu sang istri menyelesaikan jam kerja.

"Kopinya so far enak. Aku pesan caf├® latte," katanya.

Bagi Ridho, daya tarik utama yang ditawarkan oleh BakerÔÇÖs Gram tidak hanya berhenti pada keandalan rasa hidangan di lidah, melainkan juga atmosfer dan ambient kafe yang dirancang sangat pas untuk berlama-lama.

"Kalau harga standar kafe sih. Pelayanannya juga bagus," ujarnya.

Faktor kenyamanan inilah yang membuat Ridho kerap mengalihkan agenda pertemuan bisnis maupun diskusi bersama para vendor kerjanya ke kafe ini, karena suasananya mampu mencairkan ketegangan komunikasi profesional menjadi lebih santai namun tetap terarah.

"Kalau saya kan namanya kadang ketemu vendor, biasa itu vendor saya aja kesini. Misalnya kadang datang bertiga atau berdua, yaudah dia mesen. Jadi base camp saya di sini," tuturnya.

Menjawab pergeseran perilaku konsumen modern yang menuntut kepraktisan, BakerÔÇÖs Gram juga telah mengadopsi infrastruktur transaksi digital secara penuh. Guna memberikan rasa nyaman bagi pelanggan yang enggan membawa uang tunai, kafe ini menyediakan mesin EDC Merchant serta fasilitas QRIS BRI yang membuat proses pembayaran menjadi jauh lebih ringkas dan aman.

"Saya bayar pakai QRIS karena memudahkan juga," kata Ridho.

Artikel terkait

Rekomendasi