PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menunjukkan pola pemulihan kinerja yang signifikan pada kuartal I 2026. Perbaikan ini dilansir dari Money didominasi oleh penguatan pada sektor bisnis inti, yakni penerbangan berjadwal.
Di tengah beban finansial yang masih membayangi, layanan penerbangan reguler menjadi penggerak utama pertumbuhan perusahaan. Fokus pada operasional inti ini membedakan fase pemulihan sekarang dengan periode sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 31 Maret 2026, Garuda Indonesia meraup pendapatan usaha senilai 762,35 juta dollar AS atau setara Rp 13,14 triliun. Angka ini meningkat dibanding capaian kuartal I 2025 yang sebesar 723,56 juta dollar AS.
Penerbangan berjadwal menyumbang porsi terbesar dengan nilai 648,10 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,17 triliun. Secara nominal, terdapat penambahan pendapatan sekitar Rp 765 miliar dari segmen tersebut dalam setahun terakhir.
Kontribusi dari penerbangan reguler ini sangat dominan karena mencapai 85 persen dari total pendapatan usaha perseroan. Hal ini mengonfirmasi bahwa pertumbuhan GIAA tidak lagi bergantung pada pendapatan non-operasional atau faktor insidental.
Seiring kenaikan pendapatan, rugi bersih Garuda Indonesia berhasil ditekan. Pada periode berjalan, kerugian tercatat 41,62 juta dollar AS atau sekitar Rp 717,5 miliar, menyusut 45 persen dibandingkan rugi tahun lalu yang mencapai 75,93 juta dollar AS.
Penurunan juga terlihat pada rugi sebelum pajak yang terpangkas hampir separuh, dari 88,74 juta dollar AS menjadi 47,72 juta dollar AS. Kondisi ini memperlihatkan korelasi langsung antara penguatan pendapatan operasional dengan perbaikan laba-rugi.
Kinerja Lini Bisnis dan Efisiensi Biaya
Berbeda dengan bisnis inti, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal justru mengalami penurunan. Segmen ini mencatat pendapatan 24,98 juta dollar AS, turun dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar 37,96 juta dollar AS.
Meskipun pendapatan lain-lain naik menjadi 89,27 juta dollar AS, porsinya tetap kecil yakni hanya 11 persen dari total pendapatan. Struktur ini menegaskan bahwa permintaan angkutan udara reguler adalah fondasi utama model bisnis Garuda saat ini.
Dari sisi pengeluaran, total beban usaha tercatat turun tipis menjadi 713,22 juta dollar AS dari sebelumnya 718,36 juta dollar AS. Efisiensi terlihat pada beban operasional penerbangan yang berkurang menjadi 350,24 juta dollar AS.
| Indikator Keuangan | Kuartal I 2025 (Juta USD) | Kuartal I 2026 (Juta USD) |
|---|---|---|
| Total Pendapatan Usaha | 723,56 | 762,35 |
| Pendapatan Penerbangan Berjadwal | 603,69 | 648,10 |
| Beban Operasional Penerbangan | 361,96 | 350,24 |
| Rugi Bersih Periode Berjalan | 75,93 | 41,62 |
Tantangan Struktural dan Liabilitas
Meskipun operasional membaik, sejumlah pos non-operasional masih memberikan tekanan. Garuda mencatat beban keuangan sebesar 104 juta dollar AS dan mengalami rugi selisih kurs senilai 1,39 juta dollar AS.
Fakta ini menunjukkan bahwa perbaikan kinerja saat ini murni didorong oleh aktivitas operasional, bukan dari revaluasi atau keuntungan finansial satu kali. Hal ini menjadi sinyal positif bagi kualitas pemulihan maskapai pascarestrukturisasi.
Namun, tantangan efisiensi tetap ada menyusul kenaikan beban pemeliharaan dan perbaikan yang mencapai 159,14 juta dollar AS. Selain itu, beban kebandaraan dan biaya promosi juga tercatat mengalami peningkatan seiring bertambahnya aktivitas terbang.
Tekanan pada neraca juga belum sepenuhnya hilang dengan total liabilitas mencapai 7,44 miliar dollar AS. Kewajiban ini mencakup liabilitas sewa serta estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan armada pesawat yang cukup besar.
Sinyal pemulihan dari bisnis inti ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usaha Garuda Indonesia. Pergeseran pendorong kinerja dari sekadar penyehatan neraca menuju penguatan operasional menunjukkan kesiapan maskapai dalam merespons permintaan pasar reguler secara konsisten.