Kinerja emiten sektor pakan ternak menunjukkan potensi kuat pada kuartal II-2026 setelah mencatatkan pertumbuhan positif pada awal tahun. Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip dari Investasi, sejumlah perusahaan besar di sektor ini berhasil membukukan kenaikan pendapatan dan laba bersih.
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mengantongi pendapatan sebesar Rp 19,95 triliun pada kuartal I-2026, mengalami kenaikan sebesar 12,7% secara year on year (YoY). Perusahaan juga mengamankan laba bersih sebesar Rp 2,63 triliun, atau tumbuh 15,5% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara itu, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mencatatkan pendapatan senilai Rp 60,72 triliun sepanjang tahun 2025 dengan kenaikan sebesar 8,8% YoY. Laba bersih JPFA melonjak lebih tinggi hingga 33,3% YoY menjadi Rp 4,28 triliun, didorong oleh peningkatan margin laba bersih dari 5,8% menjadi 7,1%.
Pertumbuhan juga dialami oleh PT Malindo Feedmill Indonesia Tbk (MAIN) yang mengumpulkan pendapatan kuartal I-2026 sebesar Rp 3,69 triliun. Angka tersebut tumbuh 17% secara tahunan dan naik 7% secara quarter over quarter (QoQ). Walaupun laba bersih kuartalan MAIN menyusut 52%, laba bersih tahunan perusahaan melonjak pesat sebesar 96% menjadi Rp 123 miar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari memperkirakan harga ayam broiler yang tetap tinggi akibat ketatnya kondisi pasokan dan permintaan akan menjadi penopang utama sektor ini. Selain itu, perluasan program MBG oleh pemerintah dari target 53,8 juta orang pada Desember 2025 menjadi 60,2 juta orang pada Februari 2026 menjadi katalis positif yang diproyeksikan menaikkan permintaan ayam sebesar 3,2%.
Kebijakan pemangkasan kuota impor Grand Parent Stock (GPS) dinilai turut menjaga stabilitas harga jual di tingkat peternak.
"Pemulihan segmen makanan olahan juga berpotensi menjadi pendorong laba yang signifikan bagi emiten," ujar Brigita kepada Kontan, Rabu (13/5)/2026.
Namun, pelaku pasar tetap perlu mengantisipasi tantangan berupa kenaikan harga soybean meal (SBM) impor akibat penurunan produksi di Brasil dan Argentina. Risiko lain yang membayangi margin keuntungan emiten adalah potensi pelemahan harga ayam broiler dan DOC jika terjadi kelebihan pasokan di pasar.
Brigita menambahkan bahwa dampak kenaikan harga SBM impor dapat diredam oleh penurunan harga jagung lokal sekitar 3,8% secara QoQ di awal tahun. Langkah strategis seperti penyesuaian average selling price (ASP) pakan secara bertahap serta diversifikasi ke produk makanan olahan bernilai tambah tinggi dapat diterapkan emiten untuk mempertahankan profitabilitas.
Dari sisi pasar modal, saham CPIN dinilai masih undervalued dengan pertumbuhan laba kuartal I-2026 yang melebihi proyeksi pasar berkat performa segmen makanan olahan yang melesat 66,6% secara QoQ. Brigita merekomendasikan buy untuk saham CPIN dengan target harga Rp 5.900 per saham.
Rekomendasi buy juga diberikan oleh analis Phillip Sekuritas Indonesia, Marvin Lievincent, untuk saham JPFA dengan target harga Rp 3.200 per saham. Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, menyematkan rekomendasi buy untuk saham MAIN dengan target harga Rp 1.700 per saham.