Khidmat, Ratusan Umat Buddha di Solo Ikuti Meditasi Detik-detik Waisak 2026 Terbaru

Khidmat, Ratusan Umat Buddha di Solo Ikuti Meditasi Detik-detik Waisak 2026 Terbaru
Foto: Khidmat, Ratusan Umat Buddha di Solo Ikuti Meditasi Detik-detik Waisak 2026 Terbaru. (Illustration by Pexels)

Suasana religius yang mendalam menyelimuti Vihara Dhamma Sundara di Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Solo pada Minggu (31/5/2026). Puluhan umat Buddha berkumpul dengan penuh kekhidmatan untuk melaksanakan rangkaian ibadah Hari Raya Waisak.

Para jemaat mengikuti sesi meditasi detik-detik Waisak dalam kondisi yang sangat tenang dan penuh penghayatan spiritual. Momentum ini menjadi puncak peribadatan yang dinantikan oleh umat Buddha di wilayah Solo dan sekitarnya.

Makna Sakral Detik-Detik Waisak

Detik-detik Waisak sendiri merupakan sebuah momen yang sangat disakralkan dalam tradisi ajaran Buddha. Waktu tersebut ditentukan melalui perhitungan jam, menit, hingga detik yang sangat presisi.

Penghitungan ini merujuk pada waktu yang tepat terjadinya tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha Gautama. Ketiga peristiwa bersejarah tersebut mencakup momen kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, hingga wafatnya Sang Guru Agung.

Ibadah kali ini dihadiri oleh sekitar 50 hingga 70 jemaat yang merupakan warga lokal setempat. Mereka nampak begitu antusias dan fokus menjalankan setiap tahapan ritual keagamaan tersebut.

Di sisi lain, sebagian umat Buddha lainnya mengikuti instruksi dari pihak Saṅgha Theravāda Indonesia (STI). Mereka dianjurkan untuk melaksanakan meditasi detik-detik Waisak secara mandiri di vihara yang berada dekat kediaman masing-masing.

Rangkaian Prosesi di Vihara Dhamma Sundara

Kegiatan peribadatan ini dimulai dengan pembacaan Vishakapunnamipuja oleh seluruh jemaat yang hadir. Setelah itu, umat melanjutkan agenda dengan melakukan prosesi Pradaksina di area luar bangunan vihara.

Pradaksina dilakukan dengan cara berjalan kaki mengelilingi bangunan Vihara Dhamma Sundara sebanyak tiga kali putaran. Selama prosesi ini berlangsung, umat membawa berbagai perlengkapan simbolis sebagai bentuk penghormatan.

Benda-benda simbolis yang dibawa umat saat prosesi Pradaksina meliputi:
  • Lilin sebagai simbol penerangan jiwa dan kebijaksanaan.
  • Dupa yang melambangkan keharuman ajaran kebenaran.
  • Bunga sebagai pengingat akan ketidakkekalan dalam hidup.

Sambil berjalan mengelilingi vihara, umat diajak untuk merenungkan kembali perjalanan hidup agung Sang Buddha Gautama. Mereka juga merefleksikan ajaran-ajaran Guru Agung serta teladan yang diberikan oleh kumpulan murid Vinaya.

Usai menyelesaikan Pradaksina, seluruh umat kembali masuk ke dalam area utama vihara. Mereka bersiap untuk melakukan meditasi inti beberapa menit menjelang dan sesudah puncak detik-detik Waisak.

Adapun puncak detik-detik Waisak tahun ini jatuh tepat pada pukul 15.44.44 WIB. Dalam durasi tersebut, suasana di dalam vihara benar-benar senyap karena semua jemaat tenggelam dalam konsentrasi meditasi.

Pesan Waisak dan Konsep Jalan Tengah

Biksu Y.M. Atthamedho hadir untuk memberikan pesan-pesan suci Waisak kepada para jemaat yang hadir. Ia kembali mengingatkan bahwa Hari Trisuci Waisak adalah perayaan bagi tiga fase krusial dalam sejarah Buddhisme.

Ia memaparkan secara rinci mengenai kelahiran Sang Buddha, pencapaian penerangan sempurna pada usia 35 tahun, hingga wafatnya beliau di usia 80 tahun. Penjelasan ini bertujuan untuk memperkuat keyakinan dan pemahaman umat.

Pada peringatan tahun 2570/2026 ini, Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) mengusung sebuah tema besar. Tema tersebut adalah "Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih Bagi Negeri".

Biksu Atthamedho menekankan agar seluruh umat Buddha senantiasa menghindari dua pola hidup yang ekstrem dalam keseharian. Beliau menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan spiritual.

Dua gaya hidup ekstrem yang harus dihindari oleh umat Buddha adalah:
  • Pemuasan nafsu indrawi yang berlebihan dan tidak terkendali.
  • Praktik penyiksaan diri yang justru menyengsara raga tanpa makna.

Sebagai solusi kehidupan, Sang Buddha telah mewariskan konsep "Jalan Tengah" yang sangat relevan. Jalan ini memungkinkan manusia untuk tidak menyiksa diri, namun juga tidak terhanyut dalam arus pemuasan nafsu ragawi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Jalan Tengah tersebut tertuang dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. Setiap unsur dalam ajaran ini menjadi pedoman perilaku yang harus diterapkan oleh setiap individu.

Unsur Penjelasan Singkat Ajaran
Pandangan & Pikiran Memiliki pemahaman benar terhadap realitas dan niat yang tulus.
Ucapan & Perbuatan Berkomunikasi dengan jujur serta bertindak tanpa merugikan makhluk lain.
Mata Pencaharian Mencari nafkah dengan cara yang halal dan tidak melanggar moralitas.
Usaha & Perhatian Berupaya memperbaiki diri dan selalu sadar akan kondisi saat ini.
Konsentrasi Mencapai ketenangan batin melalui praktik meditasi yang tepat.

Tabel di atas merangkum delapan pilar utama yang menjadi landasan moral bagi umat Buddha dalam kehidupan bermasyarakat. Kedelapan unsur tersebut diharapkan menjadi landasan bagi umat untuk berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.

Tradisi Thudong dan Kehangatan Toleransi di Solo

Di lokasi yang berbeda, Pandita Mettasiri Sutrisno selaku Juru Bicara Panitia Perayaan Waisakha Raya 2570 TB/2026 turut memberikan keterangannya. Ia menyebutkan bahwa perayaan Waisak di Kota Solo tahun ini terasa jauh lebih sakral dan meriah.

Hal ini tidak lepas dari posisi strategis Kota Solo yang menjadi salah satu rute perlintasan para biksu Thudong. Para biksu tersebut datang dari empat negara berbeda, yakni Malaysia, Thailand, Laos, dan Indonesia.

Tradisi Thudong merupakan sebuah ritual keagamaan di mana para biksu menempuh perjalanan ribuan kilometer dengan berjalan kaki. Ini adalah bentuk laku spiritual yang mengedepankan praktik kesederhanaan dan pengendalian diri yang sangat ketat.

Pandita Mettasiri menjelaskan bahwa makna dari berjalan kaki setapak demi setapak ini sangat mendalam. Proses tersebut melambangkan perjalanan merenungkan perubahan hidup dan upaya nyata untuk menurunkan ego pribadi.

Melalui perayaan ini, umat Buddha di Solo berharap dapat terus menjalankan ajaran Jalan Mulia Berunsur Delapan secara konsisten. Mereka berkomitmen untuk terus menjaga kedamaian dan kerukunan antarumat beragama di tengah masyarakat.

Artikel terkait

Rekomendasi