Lembaga survei Cyrus Network melaporkan tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi terhadap langkah pemerintah dalam menangani bencana banjir bandang serta longsor di wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada Selasa (14/4/2026). Data ini merujuk pada respons publik atas bencana yang terjadi pada November 2025 lalu.
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden mengetahui peristiwa tersebut dengan rincian 92,7 persen warga tidak terdampak secara langsung, sementara 7,3 persen lainnya merupakan korban terdampak. Peneliti utama Cyrus Network, Syahril Ilhami, menyampaikan temuan ini dalam sebuah konferensi pers yang digelar secara virtual.
"Nah terkait dengan penanganan bencana oleh pemerintah, ada 73,8 persen publik merasa puas dengan penanganan bencana oleh pemerintah ya. 66,4 persen puas dan sangat puas 7,4 persen. Jika digabung maka angkanya 73,8 persen," ujar Syahril, Peneliti Utama Cyrus Network.
Sebagaimana dilansir dari Nasional, Syahril juga melakukan pendalaman mengenai persepsi publik terhadap efektivitas penanganan yang telah berjalan dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir. Hal ini dilakukan mengingat adanya perbedaan fase antara pemberian bantuan darurat di awal kejadian dengan proses pemulihan jangka panjang.
"79,6 persen publik merasa penanganannya sudah lebih baik gitu ya ketimbang sebelumnya. Jadi ini memang karena ketika kejadian lalu ada proses pemberian bantuan, ada proses recovery dan seterusnya sampai jika bicara hari ini maka publik merasa penanganan bencana oleh pemerintah lebih baik ketimbang sebelumnya," jelas Syahril, Peneliti Utama Cyrus Network.
Meskipun angka kepuasan tergolong tinggi, terdapat catatan kritis dari masyarakat mengenai aspek distribusi bantuan di lapangan. Syahril menekankan adanya keinginan publik agar pemerintah tidak cepat berpuas diri dan terus melakukan pembenahan pada aspek-aspek teknis ke depannya.
"Akan tetapi publik memberikan catatan atau kami mendapatkan temuan gitu ya, bahwa perlu ada peningkatan kualitas khususnya terkait dengan kecukupan bantuan kebutuhan korban bencana," imbuh Syahril, Peneliti Utama Cyrus Network.
Penelitian ini menggunakan metode multistage random sampling yang melibatkan total 1.260 responden di berbagai wilayah. Proses pengambilan data dilakukan melalui sesi wawancara tatap muka yang berlangsung pada periode 1 hingga 5 April 2026.