Warga Tokyo Ikuti Kencan Khusus Pemilik Nama Keluarga Sama

Warga Tokyo Ikuti Kencan Khusus Pemilik Nama Keluarga Sama
Foto: Ilustrasi Warga Tokyo Ikuti Kencan Khusus Pemilik Nama Keluarga Sama.

Sebuah acara kencan unik yang mempertemukan pria dan wanita dengan nama keluarga yang sama diselenggarakan di Tokyo, Jepang, pada April 2026 sebagai solusi kreatif atas aturan wajib satu nama keluarga bagi pasangan menikah. Dilansir dari Wolipop, inisiatif ini muncul di tengah ketatnya hukum sipil negara tersebut.

Para peserta mendapatkan waktu selama 15 menit pada setiap sesi untuk berinteraksi dan saling mengenal satu sama lain secara bergiliran. Proses verifikasi identitas dilakukan secara ketat melalui aplikasi sebelum para peserta diperbolehkan memulai percakapan di meja yang telah disediakan.

"Mari kita mulai dengan sapaan 'halo' yang ramah dan senyum lebar," ujar pembawa acara, seperti dikutip dari The Guardian.

Setelah sesi pembukaan, suasana pertemuan menjadi lebih santai dengan iringan tawa dan jamuan makanan ringan di setiap meja. Beberapa peserta bahkan terlihat berdiri untuk mengambil biskuit dari sponsor yang memiliki nama serupa dengan kelompok peserta tersebut.

"Sejujurnya, aku tidak terlalu mempermasalahkan soal mempertahankan nama gadis, tapi aku pikir akan menyenangkan bertemu sesama Suzuki," kata Hana Suzuki, perawat berusia 34 tahun.

Berdasarkan data hukum sipil Jepang, pasangan yang menikah diwajibkan menggunakan satu nama keluarga yang sama, di mana sekitar 95 persen perempuan berakhir mengikuti nama belakang suami. Hal ini memicu tekanan dari dunia bisnis dan organisasi Keidanren karena menyulitkan identitas profesional karyawan perempuan.

"Kami meluncurkan proyek ini untuk menyoroti isu yang semakin besar di Jepang, karena banyak orang ragu menikah akibat kewajiban mengganti nama keluarga," ujar Yuka Maruyama, perencana kreatif dari Asuniwa.

Pihak penyelenggara menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk edukasi publik terhadap isu sosial yang serius melalui pendekatan yang lebih ringan. Penggunaan nama yang sama dianggap dapat mengurangi beban psikologis terkait perubahan identitas setelah pernikahan.

"Kami ingin menyampaikan ide sederhana dan sedikit humoris dengan mempertemukan orang dengan nama keluarga yang sama agar isu ini lebih mudah dipahami," tambahnya.

Meskipun mendapatkan dukungan dari 82 persen eksekutif perempuan, pemerintah Jepang yang konservatif tetap mempertahankan aturan tersebut demi menjaga keutuhan keluarga. Survei terhadap 2.500 pengguna aplikasi kencan menunjukkan bahwa lebih dari 7 persen responden bersedia mengakhiri hubungan jika persoalan nama keluarga tidak menemui kesepakatan.

Artikel terkait

Rekomendasi