Kenaikan suhu global akibat perubahan iklim telah memangkas waktu produktivitas pekerja dan meningkatkan harga bahan pangan sehat bagi penduduk di seluruh wilayah Eropa pada 2026. Temuan ini dilaporkan dalam studi terbaru Europe Lancet Countdown mengenai keterkaitan antara kesehatan dan perubahan iklim.
Kondisi iklim yang memburuk membuat kemampuan masyarakat untuk bekerja terganggu, terutama pada sektor yang terpapar langsung cuaca luar ruangan. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Lestari pada Sabtu (25/4/2026), rata-rata pekerja di Eropa kehilangan sekitar 24 jam kerja per tahun sepanjang periode 2000 hingga 2023.
Sektor pertanian dan konstruksi menjadi bidang yang paling terdampak karena tingginya intensitas kerja di bawah paparan sinar matahari. Ketika suhu mencapai level berbahaya, para pekerja terpaksa memperlambat ritme kerja atau berhenti total demi keselamatan fisik mereka. Fenomena ini berimbas pada penurunan upah individu serta pelemahan ekonomi nasional secara keseluruhan.
"Prioritas yang paling mendesak sudah jelas: Eropa membutuhkan perlindungan terhadap panas yang mengikat secara hukum bagi pekerja, dengan peringatan dini yang secara langsung terkait dengan standar keselamatan kerja yang dapat ditegakkan, terutama di sektor berisiko tinggi seperti pertanian dan konstruksi," kata Shouro Dasgupta, penulis studi ini.
Peneliti juga menekankan perlunya penguatan sistem perlindungan sosial untuk memitigasi guncangan iklim. Langkah tersebut mencakup pemberian dukungan pendapatan, bantuan pangan, hingga program makan siang di sekolah untuk melindungi kelompok rentan.
"Gelombang panas serta kekeringan menurunkan hasil panen dan kualitas buah serta sayuran, yang kemudian memicu kenaikan harga. Hal ini membuat keluarga semakin sulit untuk mempertahankan pola makan yang sehat dan beragam," jelas Dasgupta.
Selain aspek ketenagakerjaan, krisis iklim memicu kerawanan pangan karena rusaknya kualitas hasil tani akibat kekeringan ekstrem. Laporan tersebut mencatat lebih dari satu juta orang tambahan di Eropa kini terdampak masalah pangan akibat fluktuasi harga yang tidak terkendali pada komoditas sayur dan buah.
Dampak ekonomi dan kesehatan ini tidak tersebar merata di seluruh benua. Wilayah Eropa Selatan dan Tenggara mengalami tingkat kematian akibat panas dan kerugian ekonomi yang lebih parah, sementara penduduk lanjut usia di Eropa Timur menjadi kelompok yang paling berisiko saat gelombang panas melanda.