Harga Elpiji Nonsubsidi Naik di Berbagai Wilayah per 19 April 2026

Harga Elpiji Nonsubsidi Naik di Berbagai Wilayah per 19 April 2026
Foto: Ilustrasi Harga Elpiji Nonsubsidi Naik di Berbagai Wilayah per 19 April 2026.

PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga elpiji nonsubsidi Bright Gas 12 kg yang kini mencapai Rp 228.000 per tabung di wilayah Jakarta dan Jawa pada Minggu (19/4/2026). Kenaikan ini dipicu oleh gangguan distribusi energi di tingkat global akibat eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.

Berdasarkan data resmi perusahaan yang dilansir dari Megapolitan, harga sebelumnya berada di kisaran Rp 192.000 per tabung di tingkat agen. Perbedaan harga terjadi di wilayah luar Jawa seperti Aceh, Sumatera Utara, hingga Jambi yang mematok harga sekitar Rp 230.000 per tabung.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa penyesuaian harga ini hanya berlaku untuk golongan nonsubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah ke atas. Penegasan tersebut disampaikan dalam pertemuan di kantor Kementerian ESDM pada Jumat (17/4/2026).

"Iya kan, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Orang mampu kan," ujar Bahlil.

Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah tetap mengedepankan asas keadilan dalam penyaluran subsidi energi. Meskipun harga pasar sedang bergejolak, fokus bantuan tetap diarahkan kepada masyarakat yang secara ekonomi membutuhkan dukungan negara.

"Gini loh, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu saja kok," ucap Bahlil.

Instruksi Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan bahwa harga gas elpiji 3 kg bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan. Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga bahan pokok dan energi bagi masyarakat berpenghasilan rendah di tengah situasi geopolitik dunia.

"Kalau yang subsidi (harganya) tetap. Saya hanya bisa menjamin harga subsidi karena itu adalah perintah Presiden dan perintah aturan," kata Bahlil.

Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga menyinggung soal ketepatan sasaran penggunaan gas melon. Ia meminta agar warga yang memiliki penghasilan tinggi secara sadar beralih menggunakan produk nonsubsidi demi menjaga ketahanan fiskal negara.

"Harga pasar (yang nonsubsidi). Jadi contoh model kayak orang kaya, masa orang pendapatannya di atas Rp 500 juta per bulan disuruh pakai elpiji 3 kg? Sorry ye," kata Bahlil.

Kenaikan ini dirasakan langsung oleh Michael, seorang warga Kalideres, Jakarta Barat, yang baru mengetahui lonjakan harga saat melakukan pembelian. Ia mengakui bahwa kenaikan sebesar Rp 40.000 per tabung sangat terasa bagi anggaran rumah tangganya.

"Baru tahu juga nih kalau harganya naik, lumayan juga Rp 40.000 kan, berasa juga kenaikannya," kata Michael.

Michael sebelumnya telah memprediksi akan adanya penyesuaian harga elpiji setelah melihat tren kenaikan pada sektor avtur dan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat dinilai menjadi faktor utama penggerak harga energi internasional saat ini.

"Sebenarnya sudah expected sih, karena lumayan ngikutin harga tiket pesawat yang bergantung sama avtur. Terus harga baru Pertamax Dex dan Pertamax Turbo yang naiknya jauh banget, jadi pasti gas nyusul," ucap Michael.

Sebagai langkah penghematan, Michael sempat berencana kembali menggunakan gas subsidi, namun terkendala oleh pasokan yang sering kosong di pasaran. Hal ini membuatnya tetap bertahan menggunakan tabung 12 kg meski pengeluaran harian dipastikan akan membengkak.

"Karena punya juga tabung subsidi, jadi sementara berganti ke subsidi dulu. Tapi kalau subsidi kan sering kosong, jadi mau enggak mau tetap pakai yang 12 kg. Kalau ganti ke 5,5 kg harus beli tabungnya lumayan, jadi kalau hitung-hitungan, masih efisien yang 12 kg," kata Michael.

Keluhan mengenai beban pengeluaran juga datang dari Pudji, seorang pengguna elpiji nonsubsidi selama tiga dekade. Ia menyoroti efek domino dari kenaikan harga energi yang biasanya diikuti oleh lonjakan harga komoditas pangan dan kebutuhan pokok lainnya.

"Kalau begini kan berat ya, pengeluaran jadi membengkak. Jadi mau enggak mau harus cari alternatif yang lebih meringankan. Bisa jadi (pindah ke 5,5 kg)," ucap Pudji.

Pudji menekankan perlunya langkah nyata dari pemerintah untuk meredam gejolak harga kebutuhan dasar agar tidak semakin membebani masyarakat. Harapan ini muncul seiring dengan kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya stabil menghadapi inflasi.

"Ya semoga bisa terkendali lagi lah, enggak naik-naik terus biar enggak semakin menyusahkan, namanya juga ekonomi saat ini semuanya lagi susah," kata Pudji.

Pemerintah sendiri telah mengambil langkah antisipasi dengan menambah sumber impor elpiji dari Rusia untuk menjaga ketersediaan pasokan nasional. Saat ini, stok energi domestik dilaporkan dalam kondisi aman meskipun terjadi fluktuasi harga di pasar internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi