Kemlu RI Tolak Ancaman Kapal Niaga di Selat Hormuz

Kemlu RI Tolak Ancaman Kapal Niaga di Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi Kemlu RI Tolak Ancaman Kapal Niaga di Selat Hormuz.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan penolakan terhadap segala bentuk ancaman yang menyasar kapal-kapal niaga di rute perdagangan minyak Selat Hormuz pada Kamis (16/4/2026). Langkah ini diambil menyusul eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu jalur pelayaran internasional.

Keselamatan para pelaut menjadi poin krusial yang ditekankan oleh pemerintah dalam merespons situasi di wilayah tersebut. Penegasan ini disampaikan guna memastikan kepentingan logistik nasional tetap terlindungi di tengah ketidakpastian keamanan global, sebagaimana dilansir dari Nasional.

"Dalam hal ini kita juga menolak segala bentuk ancaman terhadap kapal niaga dan menekankan bahwa keselamatan pelaut itu harus menjadi prioritas yang utama," kata Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl, Juru Bicara Kemlu.

Pemerintah menilai bahwa stabilitas di Selat Hormuz sangat bergantung pada kepatuhan terhadap hukum internasional. Vahd Nabyl menambahkan bahwa wilayah tersebut harus tetap menjadi jalur yang terbuka bagi seluruh negara tanpa adanya gangguan keamanan.

"Khususnya baik kapal pertamina dan kita akan terus memantau dan memastikan kesiapan teknis termasuk kesiapan kru, asuransi dan sebagainya agar kedua kapal tersebut dapat melintas dengan lancar," ucap Vahd Nabyl, Juru Bicara Kemlu.

Koordinasi intensif saat ini sedang dilakukan dengan otoritas terkait di Iran untuk memastikan keamanan armada Indonesia. Upaya ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi diplomatik yang telah dibangun sejak Maret lalu guna mengamankan operasional kapal Pertamina.

Data lalu lintas menunjukkan adanya penurunan drastis aktivitas pelayaran di kawasan tersebut sejak konflik pecah. Pada Rabu (15/4/2026), hanya tercatat sembilan kapal tanker yang melintas, termasuk kapal tanker RHN yang membawa 2 juta barrel minyak mentah dari Teluk Oman.

"Transit kapal tanker pada hari Selasa 90 persen lebih rendah dibandingkan lalu lintas pada tanggal 27 Februari, sehari sebelum AS dan Israel menyerang Iran. Lalu lintas telah anjlok selama perang karena ancaman serangan Iran," lapor CNBC, Media Massa.

Penurunan volume ini berbanding terbalik dengan kondisi sebelum perang, di mana 20 persen pasokan minyak dunia bergantung pada jalur ini. Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa penutupan selat dalam jangka panjang akan memberikan tekanan berat pada harga energi dan ekonomi global.

Artikel terkait

Rekomendasi