Kementerian Transmigrasi memfokuskan pengembangan kawasan transmigrasi tahun 2026 di wilayah Papua guna mempercepat pembangunan serta kesejahteraan masyarakat di Indonesia timur pada Senin (27/04/2026). Program ini melibatkan kolaborasi dengan sepuluh universitas melalui Ekspedisi Patriot untuk memberikan dampak sosial berkelanjutan bagi penduduk setempat.
Dilansir dari Kompas, perluasan kemitraan akademis dilakukan dengan menambah tiga universitas baru yaitu Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Hasanuddin (UNHAS). Ketiganya menyusul tujuh mitra awal yakni UI, IPB University, ITB, ITS, UNDIP, UNPAD, dan UGM.
Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara menjelaskan bahwa penambahan mitra ini memperkuat jangkauan program nasional tersebut di lapangan.
"Jadi sekarang selain 7 mitra utama, kami ada tambahan lagi 3 universitas yang ikut bergabung dalam program Transmigrasi Patriot, yakni UNAIR, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin," ungkap Iftitah.
Namun, kendala anggaran menyebabkan rencana peluncuran program Beasiswa Patriot untuk jenjang S2 dan S3 harus ditangguhkan pada tahun ini. Pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan alokasi dana pada kebutuhan masyarakat yang lebih mendesak dan bersifat langsung.
"Kami dapat sampaikan kemungkinan besar program beasiswa ini akan ditunda, tidak dilakukan tahun ini mengingat anggaran yang kami miliki saat ini akan langsung diberikan, diimplementasikan kepada kebutuhan rakyat yang bersifat segera," kata Iftitah.
Kebijakan pemusatan pembangunan di Papua merupakan arahan langsung dari Presiden RI guna memastikan pemerataan kesejahteraan. Langkah strategis ini mencakup aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta harmoni sosial di Bumi Cendrawasih.
"Kenapa Papua? Ini juga menjadi satu keputusan yang final untuk tahun 2026 ini, mengingat fokus Bapak Presiden terkait dengan pembangunan kesejahteraan di Papua," ucap Iftitah.
Sebanyak 10 kawasan transmigrasi di Papua akan menjadi sasaran utama pengembangan yang terbagi ke dalam beberapa klaster fungsional. Fokus utamanya adalah pengentasan kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja baru bagi warga lokal.
"Ada 8 klaster, salah satunya itu adalah pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja, kemudian juga adalah meningkatkan pendapatan masyarakat. Kami akan fokus di 10 kawasan transmigrasi yang ada di Papua," ungkap Iftitah.
Selain di Papua, akselerasi pembangunan juga tetap dilakukan di wilayah Indonesia tengah seperti Sulawesi Tengah dan wilayah barat di Rempang. Kementerian telah mengalokasikan 35 persen dari total pagu indikatif sebesar Rp 1,902 triliun untuk infrastruktur dasar.
"Namun demikian ada juga nanti beberapa tempat di Indonesia tengah, misalkan di Sulawesi Tengah, kemudian di Indonesia barat juga di Rempang yang kami akan lakukan akselerasi," jelas Iftitah.
Dengan pagu anggaran tersebut, operasional Ekspedisi Patriot tahun ini akan lebih banyak diarahkan pada aplikasi fisik di lapangan daripada riset akademik murni. Hal ini sejalan dengan target Program Kerja Prioritas Nasional.
"Maka, Ekspedisi Patriot tidak banyak riset tahun ini, melainkan aplikasi kebutuhan rakyat seperti infrastruktur dasar dan turunan dari PKPN atau Program Kerja Prioritas Nasional," jelas Iftitah.