Kementerian Pertanian Genjot Produktivitas Beras Nasional 10 Ton Per Hektare

Kementerian Pertanian Genjot Produktivitas Beras Nasional 10 Ton Per Hektare
Foto: Ilustrasi Kementerian Pertanian Genjot Produktivitas Beras Nasional 10 Ton Per Hektare.

Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produktivitas lahan sawah menjadi 10 ton per hektare guna memperkuat stok pangan nasional tahun 2025 yang saat ini dilaporkan melonjak signifikan. Langkah ini diambil di tengah posisi stok beras nasional yang telah mencapai angka 4,07 juta ton pada Senin (20/4/2026).

Dilansir dari Money, Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah, Sam Herodian, mengungkapkan bahwa pemerintah tidak ingin berpuas diri dengan capaian ketahanan pangan saat ini. Fokus utama ke depan adalah mengejar ketertinggalan hasil panen dibandingkan dengan pencapaian negara-negara lain di dunia.

"Produktivitas kita masih di kisaran 4,5 tonÔÇô4,7 ton per hektar, sementara negara lain sudah bisa 10 ton per hektar. Ini yang belum kita kejar," jelas Sam dikutip dari Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Selain komoditas beras, pemerintah juga memacu pertumbuhan produksi pangan lainnya secara masif. Target produksi jagung ditetapkan sebesar 10,2 juta ton, diikuti bawang merah 2,18 juta ton, dan cabai mencapai 1,72 juta ton, sementara sektor peternakan mencatat kenaikan daging ayam sebanyak 4,06 juta ton dan telur 631.000 ton.

Pemerintah kini mulai mengalihkan fokus pada manajemen logistik seiring melimpahnya ketersediaan bahan pokok di lapangan. Sam Herodian menekankan pentingnya infrastruktur penyimpanan agar kelebihan produksi tersebut tidak terbuang sia-sia atau memicu masalah distribusi.

"Sekarang ini bukan soal kekurangan bahan, melainkan bagaimana menyimpan dan mengelola kelebihan produksi," beber Sam.

Data dari Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan menunjukkan Indonesia telah mencapai status surplus pada sembilan komoditas utama. Komoditas tersebut mencakup beras, jagung, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, hingga minyak goreng.

Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa pengelolaan cadangan pangan menjadi krusial untuk menjaga stabilitas harga di tingkat pasar agar tetap menguntungkan petani dan konsumen.

"Artinya produksi kita melebihi kebutuhan. Ada ketersediaan, cadangan, dan carry over stock," jelas I Gusti Ketut dikutip dari Kontan.

Pemerintah memproyeksikan stok beras tahunan akan menyentuh angka 16 juta ton pada akhir tahun 2026. Angka ini dinilai sangat memadai mengingat tingkat konsumsi nasional rata-rata hanya berada di kisaran 2,8 juta ton setiap bulannya.

Hingga pertengahan tahun ini, volume beras yang tersedia di gudang penyimpanan masih terjaga pada level yang tinggi. Hal ini memberikan jaminan keamanan pasokan pangan bagi masyarakat setidaknya untuk satu semester ke depan.

ÔÇ£Sampai bulan Juni kita masih punya 15,8 juta ton. Ini sangat aman,ÔÇØ jelasnya.

Kebijakan strategis saat ini difokuskan pada penguatan kapasitas penyimpanan dan jalur distribusi nasional. Hal ini dilakukan guna mencegah potensi jatuhnya harga pangan di tingkat produsen akibat adanya tekanan dari pasokan yang berlebih di pasaran.

Artikel terkait

Rekomendasi