Kemenhut Jaga Vegetasi Gunung Ciremai demi Pasokan Air Jawa Barat

Kemenhut Jaga Vegetasi Gunung Ciremai demi Pasokan Air Jawa Barat
Foto: Ilustrasi Kemenhut Jaga Vegetasi Gunung Ciremai demi Pasokan Air Jawa Barat.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkomitmen mempertahankan kelestarian tutupan vegetasi di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada Selasa (12/5/2026). Langkah ini dilakukan untuk menjaga fungsi strategis kawasan tersebut sebagai 'Tower Air' bagi masyarakat di Kabupaten Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu.

Kawasan konservasi seluas 14.841,3 hektare tersebut memegang peran krusial dalam menjamin ketersediaan air bersih di wilayah sekitarnya. Sebagaimana dilansir dari Detik Travel, upaya rehabilitasi yang konsisten telah meningkatkan tutupan vegetasi TNGC hingga mencapai hampir 90 persen, melonjak dari kondisi sebelum tahun 2004 yang sempat beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

Kepala Balai TNGC Toni Anwar menjelaskan bahwa Gunung Ciremai memiliki sumber daya air yang melimpah dan berkualitas tinggi. Hal tersebut menjadikannya penopang utama kebutuhan hidup warga di empat kabupaten di Jawa Barat.

"Taman Nasional Gunung Ciremai ini disebut Tower Air di Jawa Barat. Ada 97 titik mata air yang tidak pernah surut dan kualitasnya sangat murni hingga layak minum langsung dari sumbernya. Jika kondisi hutan berubah, maka masyarakat sekitar yang paling pertama terkena dampak krisis air," kata Toni Anwar, Kepala Balai TNGC.

Selain menjaga siklus hidrologi, kawasan ini berfungsi sebagai rumah bagi berbagai satwa langka seperti Macan Tutul, Elang Jawa, dan Surili. Toni Anwar menyebut kehadiran spesies prioritas tersebut menjadi parameter keberhasilan upaya pelestarian lingkungan di gunung tertinggi Jawa Barat itu.

"Munculnya Macan Tutul di kamera pemantau atau perjumpaan dengan Surili menunjukkan habitat di sini masih terjaga. Kami menyebut mereka akamsi atau anak kampung sini, penghuni asli yang harus kita lindungi bersama habitatnya," ucap Toni Anwar, Kepala Balai TNGC.

Dalam pengelolaannya, TNGC menerapkan strategi berbasis pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan warga dari 54 desa penyangga. Saat ini terdapat 30 titik Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) yang dikelola oleh warga lokal, termasuk di Desa Cisantana, sebagai peralihan dari aktivitas pertanian lahan kawasan.

"Hubungan timbal balik antara hutan yang lestari dengan kemajuan ekonomi melalui wisata yang menarik," kata Toni Anwar, Kepala Balai TNGC.

Upaya pelestarian ini juga sejalan dengan agenda Indonesia's FOLU Net Sink 2030 yang dibahas dalam kegiatan Sinergi Perempuan Indonesia pada 11-13 Mei 2026. Kemenhut menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 1,6 miliar ton CO2 ekuivalen melalui penekanan laju deforestasi.

Melalui koordinasi Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, kementerian berharap momentum ini memperkuat keterlibatan semua pihak, terutama perempuan, dalam aksi nyata pengelolaan hutan. Langkah ini ditujukan untuk membangun narasi positif dalam kebijakan kehutanan nasional melalui komunikasi publik yang efektif.

Artikel terkait

Rekomendasi