Kementerian Perhubungan melakukan pemanggilan terhadap manajemen perusahaan taksi asal Vietnam, Green SM, menyusul insiden kecelakaan di pelintasan Stasiun Bekasi Timur pada Selasa sekitar pukul 09.00 WIB. Kecelakaan yang melibatkan armada taksi listrik tersebut memicu gangguan sistem perkeretaapian hingga mengakibatkan jatuhnya belasan korban jiwa.
Investigasi mendalam sedang dilakukan guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan yang melibatkan taksi hijau di perlintasan sebidang JPL 85 tersebut. Sebagaimana dilansir dari Detik Oto, dampak dari insiden ini telah menyebabkan 15 orang dilaporkan meninggal dunia yang semuanya berjenis kelamin perempuan, serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyatakan bahwa proses pengambilan keterangan dari pihak operator taksi sedang dijadwalkan secepat mungkin. Koordinasi antarinstansi terus diperkuat untuk mendapatkan gambaran utuh peristiwa tragis ini.
"Mudah-mudahan kalau jadi hari ini harusnya," ucap Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi dikutip detikFinance.
Kronologi kejadian bermula saat armada Green SM terjebak di tengah rel hingga tertemper KRL Commuter Line. Dampak benturan tersebut menghentikan perjalanan rangkaian kereta di belakangnya tepat di area Stasiun Bekasi Timur, yang kemudian ditabrak oleh kereta api Argo Bromo Anggrek.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa gangguan pada sistem perkeretaapian di emplasemen stasiun diduga kuat berawal dari insiden awal yang melibatkan kendaraan tersebut.
"Kejadian ini di jam 9 kurang, dimulai dengan adanya temperan taksi hijau, di JPL 85. Ini yang kami curigai membuat sistem perkeretaapian di daerah emplasemen Stasiun Bekasi Timur ini agak terganggu, sementara itu kronologinya," ujar Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin.
Pihak Green SM memberikan tanggapan resmi melalui platform media sosial terkait status terkini dari penanganan insiden tersebut. Perusahaan menegaskan bahwa mereka masih menunggu hasil investigasi formal dari pihak kepolisian dan otoritas terkait.
"Saat ini, insiden tersebut masih dalam proses investigasi dan belum terdapat kesimpulan resmi dari pihak berwenang. Green SM terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dengan menyampaikan informasi yang relevan serta mendukung jalannya investigasi," tulis Green SM.
Manajemen perusahaan juga menekankan komitmen mereka terhadap prosedur keselamatan kerja dalam operasional armada mereka di Indonesia. Langkah transparansi menjadi fokus utama perusahaan dalam menghadapi proses hukum yang berjalan.
"Keselamatan dan transparansi tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar operasional yang ketat guna mendukung keselamatan pengemudi, penumpang, dan masyarakat," demikian pernyataan Green SM.